"Apakah benar atasan bapak yakni duta besar pernah marah ke bapak karena anda melanggar aturan terkait pembelian kendaraan?," kata anggota Pansel KPK, Harkristuti Harkrisnowo di kantor Setneg, Jl Veteran, Jakpus, Rabu (26/8/2015).
Saut membenarkan bahwa saat bekerja sebagai diplomat di Australia, dirinya pernah menerabas aturan tentang kendaraan dinas. Saut pernah membeli mobil yang digunakannya sehari-hari, padahal diplomat harus menggunakan kendaraan berpelat CD.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ini kan selalu berpikir out of the box bu," imbuhnya.
Tuti, sapaan akrab Harkristuti kemudian menanyakan hubungan Saut dengan Menkopolhukam, Luhut Binsar Panjaitan. Ternyata, Saut pernah menjadi bawahan Luhut, saat Luhut menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Singapura.
"Pak Luhut itu Dubes saya, paling kalau ditanya soal saya, dia akan bilang kalau saya keras kepala dan tidak bisa diatur," jawab Saut santai.
Tuti lalu mengingatkan Saut bahwa KPK memiliki SOP yang sangat ketat. SOP dan kode etik untuk pimpinan KPK sangat ketat dan tidak ada toleransi sedikitpun bagi yang melanggar.
"Lalu anda bagaimana kalau jadi pimpinan KPK? SOP KPK ini sangat ketat. Tidak ada toleransi di SOP pimpinan KPK," tutur Tuti.
"Ya saya akan mengikuti SOP KPK sebaik-baiknya bu," jawab Saut.
"Kok jadi tidak konsisten, tadi katanya anda ini bekerja out of the box dan suka menerabas aturan yang dianggap tidak sesuai dengan diri anda?" cetus Tuti. (Hbb/hri)











































