Kader PPP Harapkan Silatnas Menuju Muktamar Dipercepat
Sabtu, 26 Feb 2005 00:01 WIB
Jakarta - Silatnas PPP yang digelar mulai hari Jumat (25/2/2005) diharapkan dapat menjadi pemicu bagi percepatan muktamar. Bila tidak ada muktamar dipercepat, dapat menimbulkan perpecahan dan bahkan melahirkan partai baru, P4 atau PPP Perjuangan.Hal tersebut diungkapkan oleh Dewan Pakar DPP PPP H Mudrik Sangidoe di sela-sela acara Silatnas PPP di Hotel Sahid Jaya, Jl.Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (25/2/2005)."Silatnas ini selain untuk menyelamatkan partai, sekaligus juga untuk mempercepat muktamar. Jika Silatnas tidak bisa menghasilkan keputusan untuk muktamar dipercepat, berarti sia-sia saja diadakan dengan dana yang cukup besar," kata Mudrik kepada detikcom.Menurut Mudrik yang juga staf ahli DPW PPP Jawa Tengah, usulan adanya muktamar dipercepat ini pertama kali muncul saat DPW PPP Jateng mengadakan Musyawarah Wilayah yang rekomendasinya adalah mempercepat muktamar. Namun sebenarnya usulan tersebut juga sudah dimiliki DPW-DPW lain, hanya saja DPW Jateng yang pertama mengungkapnya.Mudrik menjelaskan, muktamar sangat perlu dipercepat, karena banyak keputusan DPP yang tidak sesuai dengan keinginan daerah, serta tidak dikonsolidasikan dulu dengan daerah. "Jadi terkesan bahwa warga PPP di tingkat bawah hanya dijadikan sebagai ajang memperoleh suara," ujarnya.Mudrik juga mengingatkan, bila muktamar tidak dipercepat, ada kemungkinan partai yang besar di jaman Orde Baru ini akan ditinggalkan pendukungnya. "Bahkan mungkin akan muncul partai baru, yaitu P4 atau PPP Perjuangan," selorohnya.Untuk Pemilu 2009 nanti, lanjut Mudrik, PPP tidak boleh lagi mengandalkan pemilih tradisional, tapi harus membidik generasi muda. Sebagai contoh, karir Hamzah Haz menurutnya sudah mentok saat menjadi wapres periode yang lalu. Kini giliran para penerus yang lebih muda, seperti Suryadarma Ali atau Sugiharto yang harus diberi kesempatan.Cari Landasan IdeologiSementara itu pengamat politik Fachrie Ali mengatakan, Silatnas terjadi sebagai bentuk ketidakpuasan tokoh-tokoh besar dalam PPP yang tidak terakomodasi dalam DPP. Tokoh-tokoh yang tersingkir ini kemudian bergabung dengan berbagai komponen yang juga tidak puas dengan hasil pemilu lalu."Ini sebenarnya norak, karena hanya mementingkan uang dan kekuasaan. Tidak hanya P3 yang seperti ini tapi juga partai besar lain. PPP tidak punya dasar ideologi yang kuat atau kekhususan untuk strata sosial apa," katanya.Menurut Fachrie, seharusnya dalam Silatnas ini PPP mencari landasan ideologi apa yang akan mereka pakai nantinya. "Karena partai islam bentukan era reformasi, seperti PAN, PKB, dan PKS, sudah mengkhususkan diri pada strata sosial yang ada, maka PPP juga harus memanfaatkan Silatnas ini untuk mencari landasan ideologi," tambahnya.
(ast/)











































