"Ketika media hanya mengejar rating dibanding memandu publik untuk meneguhkan nilai keutamaan dan budaya kerja produktif. Masyarakat mudah terjebak histeria publik. Terutama isu-isu yang berdimensi sensasional," tutur Jokowi di Ruang Sidang Paripurna MPR, Jumat (14/8) lalu.
Sebuah harapan dari orang nomor satu di Republik Indonesia agar masyarakat mendapatkan tontonan yang bermanfaat. Bukan tidak mungkin manakala tontonan nantinya menjadi tuntunan dan pada akhirnya menjadi tatanan masyarakat. Bukan tidak mungkin pula film pun menjadi sarana untuk melakukan Revolusi Mental.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekan depannya di hari yang sama (21/8) Jokowi kemudian memanggil para pimpinan produksi media televisi. Di ruang yang terletak pada tengah Istana Merdeka itu, Jokowi bertatap muka dengan mereka.
Sorotan mata Jokowi tampak serius ketika bicara, meski sedikit-sedikit terselip kata-kata bernuansa canda untuk mencairkan suasana. Bercerita pula dia tentang kesenangannya menonton televisi.
Rupanya di siang menjelang sore hari itu Jokowi ingin menyampaikan maksud dari pidato sepekan sebelumnya. Sebuah hal yang selama ini luput karena tak ada laporan pun akhirnya disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi.
"Dan yang menghibur saya kira juga sisi hiburannya banyak sekali, dan menghibur rakyat juga, ya saya tahu, tapi apa tidak bisa diisikan menghibur tapi mendidik. Menghibur tapi mengedukasi. Menghibur tapi mengisi dengan sisi moralitas. Menghibur tapi mengisi dengan sisi-sisi optimisme. Saya kira kreativitas juga bisa memunculkan hal-hal seperti itu. Saya nggak usah menunjuk spesifik, atau salah satu, karena saya juga nonton itu juga senang," ungkap Jokowi.
Pada pertemuan tersebut memang Jokowi tak langsung memberikan contoh tayangan-tayangan hiburan yang mengedukasi. Tetapi rupanya dia seolah menunjukkan maksudnya dengan kegiatan dia di luar agenda resmi.
Senin (24/8) malam ketika agenda resmi telah rampung dilakukan di Istana Bogor, rupanya Jokowi menyempatkan untuk menonton tayangan yang dinilai positif. Sambil ditemani oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dirinya menonton film Jenderal Soedirman.
"Saya kira kita akan wajibkan anak-anak kita untuk nonton film ini, karena sangat sarat dengan nilai perjuangan. Mungkin sekarang anak-anak tidak bisa membayangkan betapa sulitnya perjuangan para pahlawan kita," ucap Jokowi usai menyaksikan pemutaran film Jenderal Soedirman di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan seperti dilansir situs resmi milik 21 Cineplex.
Jokowi dan Gatot kompak mengenakan batik cokelat pada acara santai malam hari itu. Tampak pula mantan wapres Try Sutrisno dan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan.
"Beliau adalah orang yang sepenuh jiwa mendukung kemerdekaan 100%. Benar-benar lepas dari segala bentuk penjajahan. Tanpa perang gerilya yang dilakukan Pak Dirman mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah terjadi, karena saat itu semua pemimpin Indonesia sedang ditangkap oleh Belanda," tutur Jokowi saat itu.
Teringat kemudian pada ajakan Jokowi untuk menonton film buatan anak bangsa di Hari Film Nasional. Waktu itu Istana Negara bertabur bintang-bintang perfilman nasional yang juga menyampaikan uneg-uneg mereka.
"Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, sebelum nonton film dari luar nonton terlebih dahulu film Indonesia. Ayo nonton film Indonesia! " seru Jokowi dalam sambutan Peringatan Hari Film Nasional di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Senin (30/3). (bag/mok)










































