BNPB: Kemarau Panjang, 6 Gunung di Jawa Rawan Terbakar

BNPB: Kemarau Panjang, 6 Gunung di Jawa Rawan Terbakar

Muchus Budi R. - detikNews
Selasa, 25 Agu 2015 19:32 WIB
BNPB: Kemarau Panjang, 6 Gunung di Jawa Rawan Terbakar
Foto: Soelis/pasangmata.com
Solo - Kemarau panjang diperkirakan akan melanda Indonesia tahun ini. Dampaknya banyak areal hutan di pegunungan menjadi kering dan gampang terbakar. Di Pulau Jawa kawasan hutan di enam gunung sangat rawan terkobar api dan beresiko menjadi kebakaran skala besar karena lokasinya yang sulit diakses peralatan untuk pemadaman.

Keenam kawasan hutan rawan terbakar itu adalah hutan di Gunung Cermai (Jabar), Gunung Lawu, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, Gunung Sumbing (Jateng), dan Gunung Kawi (Jatim).

Seperti diketahui kebakaran hutan mulai melanda di kawasan tersebut, akhir pekan lalu tidak kurang dari 90 hektar kahan hutan di Gunung Merbabu yang meliputi wilayah Magelang, Semarang dan Boyolali hangus terbakar. Sedangkan di hutan Gunung Lawu saat ini api masih berkobar membakar hutan-hutan di lereng Gunung tersebut di wilayah Ngawi dan Karanganyar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Musim kemarau tahun ini diperkirakan hingga November sehingga kondisi menjadi sangat kering dan sangat mudah terbakar. Masyarakat di wilayah enam gunung itu harus waspada dan melakukan langkah pencegahan. Sebab berdasarkan hasil inventarisasi kebakaran hutan yang nyaris terjadi setiap tahun itu sebagian besar akibat kecerobohan manusia," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Solo, Selasa (25/8/2015).

Kebakaran di kawasan hutan di lereng Gunung, kata Sutopo, biasanya akan menjadi kebakaran dengan skala besar karena upaya pemadamannya membutuhkan waktu relatif lama mengingat lokasinya sulit dijangkau dengan peralatan sehingga pemadaman hanya bisa dilakukan cara manual. Dalam kondisi seperti itu, langkah maksimal yang bisa dilakukan petugas hanyalah langkah melokalisasi api agar tidak meluas.

"Sulit melakukan pemadaman di hutan dalam kondisi kemarau seperti sekarang. Peralatan pemadaman modern seperti water bombing tidak bisa dikerahkan karena lokasinya sulit diakses. Hujan buatan juga sulit diusahakan karena tidak ada bibit awan di musim kemarau. Akhirnya ya pemadaman secara manual sembari menunggu api mati dengan sendirinya," lanjut Sutopo. (mbr/try)


Berita Terkait