Di hadapan 3.904 mahasiswa, Risma berkisah tentang perjuangannya membangun kota dan budaya di Surabaya. Dengan logat Surabaya yang kental dan penuh canda, Risma beberapa kali melempar canda. Salah satunya cerita saat dia masuk ke kawasan lokalisasi Dolly yang saat itu belum ditutupnya.
"Saya masuk ke kawasan yang terkenal se-Asia Tenggara. (Ada yang bilang) 'Bu Wali, sudah 34 tahun tidak ada Wali Kota yang datang ke sini'. (Saya bilang), kalau saya kan nggak apa-apa. Walaupun pernah ditawar," kata Risma sambil tertawa lepas.
Risma di UGM (Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu dia berjuang keras membangun kota tak hanya secara fisik tapi juga budaya warganya. Awal mula yang dilakukannya adalah membangun budaya kebersihan.
"Bagaimanapun tingkat peradaban salah satunya dapat dilihat dari bagaimana warga menjaga kebersihan," kata Risma.
Wanita kelahiran Kediri, 61 tahun yang lalu ini memiliki caranya sendiri untuk mendidik warga Surabaya menjaga kebersihan. Bukan dengan perintah, Risma memilih menjadi contoh dengan rajin turun ke kampung-kampung sekedar untuk menyapu atau membersihkan sungai.
"Saya nyapu dengan sapu yang saya bawa ke mana-mana. Akhirnya mereka ikut nyapu. Saya sendiri juga bersihkan sungai, saya masuk ke sungai, lalu pak RT dan pak RW lihat kan akhirnya mereka ikut masuk sungai," imbuhnya.
Hasilnya, kata Risma, sejak dia memimpin sudah 5 adipura kencana berhasil diraih Surabaya. Tak hanya itu, jumlah penyakit menurun drastis, suhu udara menurun, dan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga menurun signifikan.
Kini warga di perkampungan Surabaya juga telah menanam sayurnya sendiri. Barangkali pertanian di Surabaya dahulu menjadi angan-angan saja, tapi Risma mengaku hal itu berhasil diwujudkan.
"Yang dulu kita nggak bisa bayangkan ada kobis, selada merah, bawa pre, timun bisa tumbuh di Surabaya," kata Risma.
Risma juga menceritakan soal keberhasilannya mendekati bonek. Begitu gencar pendekatan Risma, sampai-sampai Risma pernah berkomunikasi dengan bonek hingga dini hari.
Berbagai pendekatan ini Risma lakukan untuk mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana menghormati orang lain.
"Mereka berantem sama Arema, saya datang. Saya bilang 'Duduk!' anak-anak duduk kok. Saya bilang 'Turun!', anak-anak turun. Saya bisa kalahkan bonek karena (saya) emaknya bonek," kata Risma sambil tersenyum lebar dan disambut tepuk tangan riuh para hadirin. (sip/try)












































Risma di UGM (Foto: Sukma Indah P/detikcom)