Di UGM, Risma Bercanda soal 'Tawaran' di Dolly hingga Jadi Emaknya Bonek

Di UGM, Risma Bercanda soal 'Tawaran' di Dolly hingga Jadi Emaknya Bonek

Sukma Indah Permana - detikNews
Selasa, 25 Agu 2015 15:25 WIB
Di UGM, Risma Bercanda soal Tawaran di Dolly hingga Jadi Emaknya Bonek
Foto: Taufan Noor Ismailian
Yogyakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi pengisi kuliah perdana mahasiswa baru program pascasarjana UGM. Di kesempatan ini, Risma memamerkan kemampuan aplikasinya yang bisa memantau kemacetan Surabaya meski dia berada di Yogyakarta.

Di hadapan 3.904 mahasiswa, Risma berkisah tentang perjuangannya membangun kota dan budaya di Surabaya. Dengan logat Surabaya yang kental dan penuh canda, Risma beberapa kali melempar canda. Salah satunya cerita saat dia masuk ke kawasan lokalisasi Dolly yang saat itu belum ditutupnya.

"Saya masuk ke kawasan yang terkenal se-Asia Tenggara. (Ada yang bilang) 'Bu Wali, sudah 34 tahun tidak ada Wali Kota yang datang ke sini'. (Saya bilang), kalau saya kan nggak apa-apa. Walaupun pernah ditawar," kata Risma sambil tertawa lepas.
Risma di UGM (Foto: Sukma Indah P/detikcom)
Ribuan mahasiswa yang hadir sontak tertawa riuh. Kisah ini menjadi pembuka dari Risma saat menjadi pembicara dalam kuliah perdana mahasiswa baru program pascasarjana Tahun ajaran 2015/2016 UGM. Acara ini digelar di gedung Grha Sabha Pramana UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (25/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Risma mengatakan, Surabaya sebelumnya memang dikenal dengan berbagai kesan yang negatif. Mulai dari kota yang panas dan kotor, warganya yang keras kepala, hingga ulah para boneknya.

Untuk itu dia berjuang keras membangun kota tak hanya secara fisik tapi juga budaya warganya. Awal mula yang dilakukannya adalah membangun budaya kebersihan.

"Bagaimanapun tingkat peradaban salah satunya dapat dilihat dari bagaimana warga menjaga kebersihan," kata Risma.

Wanita kelahiran Kediri, 61 tahun yang lalu ini memiliki caranya sendiri untuk mendidik warga Surabaya menjaga kebersihan. Bukan dengan perintah, Risma memilih menjadi contoh dengan rajin turun ke kampung-kampung sekedar untuk menyapu atau membersihkan sungai.

"Saya nyapu dengan sapu yang saya bawa ke mana-mana. Akhirnya mereka ikut nyapu. Saya sendiri juga bersihkan sungai, saya masuk ke sungai, lalu pak RT dan pak RW lihat kan akhirnya mereka ikut masuk sungai," imbuhnya.

Hasilnya, kata Risma, sejak dia memimpin sudah 5 adipura kencana berhasil diraih Surabaya. Tak hanya itu, jumlah penyakit menurun drastis, suhu udara menurun, dan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga menurun signifikan.

Kini warga di perkampungan Surabaya juga telah menanam sayurnya sendiri. Barangkali pertanian di Surabaya dahulu menjadi angan-angan saja, tapi Risma mengaku hal itu berhasil diwujudkan.

"Yang dulu kita nggak bisa bayangkan ada kobis, selada merah, bawa pre, timun bisa tumbuh di Surabaya," kata Risma.

Risma juga menceritakan soal keberhasilannya mendekati bonek. Begitu gencar pendekatan Risma, sampai-sampai Risma pernah berkomunikasi dengan bonek hingga dini hari.

Berbagai pendekatan ini Risma lakukan untuk mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana menghormati orang lain.

"Mereka berantem sama Arema, saya datang. Saya bilang 'Duduk!' anak-anak duduk kok. Saya bilang 'Turun!', anak-anak turun. Saya bisa kalahkan bonek karena (saya) emaknya bonek," kata Risma sambil tersenyum lebar dan disambut tepuk tangan riuh para hadirin. (sip/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads