Ahok Pernah Marahi Wali Kota Tangerang karena Gusur Warga Tanpa Solusi

Ray Jordan - detikNews
Selasa, 25 Agu 2015 13:16 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dulu pernah mengkiritik upaya penggusuran yang dilakukan pemerintah daerah. Saat itu Ahok kesal karena Pemerintah Kota Tangerang menggusur warga tanpa memberikan solusi.

Ahok menceritakan, peritistiwa itu terjadi saat dia masih menjabat sebagai anggota Komisi II DPR RI. Dia marah ke Wali Kota Tangerang saat itu (Wahidin Halim) yang menggusur warga di pinggiran sungai Cisadane tanpa memberi uang kerohiman.

"Waktu itu saya di Komisi II (DPR-RI). Saat itu masih ada uang kerohiman. Makanya saya marah sama wali kota (Tangerang). Ini orang sudah tinggal lama Cisadane, Ciliwung mirip-mirip kasusnya. Saya bilang mana boleh (gusur tanpa uang kerohiman). Kalau boleh dianggarin, kenapa enggak dianggarin. Itu yang saya marah," ujar Ahok di Balaikota DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015).

"Kamu enggak bisa main usir orang terus nggak dikasih solusi rusun. Enggak ada main usir aja, enggak bisa dong," tambah Ahok.

Baca juga infografis: Mengapa Kampung Pulo Direlokasi?

Ahok pun tak mau dibandingkan antara waktu itu dengan caranya sekarang menertibkan kawasan Kampung Pulo, Jakarta Timur. Sebab, untuk Kampung Pulo pihaknya menyediakan rusun sebagai pengganti uang kerohiman. Sebab, berdasarkan aturan, saat ini uang kerohiman sudah tidak bisa lagi dilakukan.

"Jangan bandingin saya. Saya kan mau kasih duit. Secara jujur kalau mau kasih duit saya lebih suka kasih Rp 15 juta. Saya bangun satu rusun butuh Rp 140-200 juta. Kalau mau minta Rp 15 juta pulang kampung mau kasih kerohiman saya kasih Rp 15 juta, lebih untung saya," kata Ahok.

Ahok pun mengatakan, untuk membangun rusun butuh waktu dan biaya yang banyak. Sedangkan kerohiman, berdasarkan aturan hanya 25 persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).

"Karena  Bangun rusun tuh lama. Bangun rusun 500 saya mau pindahin 2 ribu aja. Saya enggak berani bongkar. Karena rusun cuma 500. Tapi kalau dua ribu orang bilang udah, kasih Rp 10 juta saja asal kami pergi 25 persen kerohiman. Saya kasih. Kenapa? Langsung kasih langsung selesai masalah," jelas Ahok.

"Kalau rusun saya butuh 1,5 tahun. Kalau kerohiman seperti dulu 2010, masih boleh dulu. Dia (Wali Kota Tangerang saat itu) enggak mau kasih karena enggak ada anggaran. Ya minta dong sama DPRD. Kalau enggak ada duit bikin rusun. Kalau enggak begitu pengusiran namanya," tambah Ahok. (rjo/hri)