Kabar kekalahan Jepang oleh tentara sekutu dengan dibomnya Nagasaki dan Hiroshima sudah sampai di telinga para pejuang. Mereka mendesak Soekarno untuk memproklamirkan Kemerdekaan RI.
Tepat pukul 10.00 WIB, di rumah Jalan Pegangsaan itu, Soekarno membacakan teks proklamasi untuk pertama kalinya. Bendera Merah Putih yang dijahit tangan oleh Fatmawati akhirnya bisa dikibarkan bebas oleh dua orang pemuda dengan dipimpin oleh Latief Hendraningrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paskibraka tahun 1967 (dok. Sri Anggraeni) |
Dua pemuda pengibar bendera itu menjadi pelaku sejarah pengibaran bendara pusaka pertama. Tugas mereka mengibarkan Merah Putih dilanjutkan oleh para pemuda-pemudi hingga kini.
Seiring berjalannya waktu, para petugas pengibar bendera yang dikenal Paskibraka terus berkembang. Bahkan dulu nama pasukan itu bukan Paskibraka, namun Pasukan Pengerek Bendera Pusaka.
Saat ibu kota di pindah ke Yogyakarta tahun 1946 dan menjadi awal lahirnya gagasan Paskibraka. Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya Mayor (Laut) Husein Mutahar untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung Agung Yogyakarta dalam rangka peringatan HUT ke-2 RI.
Husein Mutahar lalu menyiapkan lima orang pemuda yang terdiri dari 3 putra dan 2 putri untuk mengibarkan bendara. Jumlah 5 pemuda itu melambangkan Pancasila. Upacara pengibaran bendera itu terus dilakukan hingga tahun 1949.
Saat Ibu Kota dipindah ke Jakarta tahun 1950, pengibaran bendera tak lagi ditangani Husein Mutahar, namun diambil alih oleh Rumah Tangga Kepresidenan hingga tahun 1966. Para pengibar bendera dipilih dari sekolah dan kampus yang ada di Jakarta.
Pasukan pengibar bendera terus berkembang, dari hanya berjumlah 5 pemuda menjadi 70 pemuda. Jumlah itu terdiri dari 3 kelompok pasukan, yakni pasukan pengiring 17 orang pasukan pembawa bendera 8 orang, dan pasukan pengawal 45. Pembagian jumlah tiga kelompok itu merupakan simbol dari tanggal Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Perubahan jumlah pasukan itu terjadi di tahun 1967 pada era Presiden Soeharto. Kala itu Soeharto memanggil Husein Mutahar untuk membentuk formasi pengibar bendara. Awalnya pasukan hanya terdiri dari pemuda dari Jakarta, dan di tahun 1968 berubah menjadi utusan provinsi.
Dari tahun 1967-1972 pasukan ini disebut dengan Pasukan Pengerek Bendara Pusaka. Pada tahun 1973, nama tersebut diganti oleh Idik Sulaeman menjadi Paskibraka yang artinya Pasuka Pengibar Bendera Pusaka.
"Dulu itu namanya Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, sekitar tahun 1973 Idik Sulaeman mengubahnya menjadi Paskibraka," ucap Pembina Paskibraka Subagyo saat berbincang dengan detikcom, Senin (24/8/2015).
Subagyo yang sudah makan asam garam di Paskribraka ini mengatakan filosofi pasukan pengibar bendara ini adalah membentuk mental, fisik dan disiplin diri. Menjadi Paskibraka bukan hanya menjadi pembawa bendera, namun mereka disiapkan untuk menjadi pemimpin negeri.
"Paskibraka bukannya hanya pembawa bendera melainkan mereka calon pemimpin bangsa. Kita dituntut melatih mental mereka sebagai pemimpin. Sehingga mereka juga kita beri pengetahuan juga," ujarnya. (slh/fdn)












































Paskibraka tahun 1967 (dok. Sri Anggraeni)