Wuzz! Perjalanan Setara Jakarta-Bandung Ditempuh 40 Menit di China

Laporan dari Beijing

Wuzz! Perjalanan Setara Jakarta-Bandung Ditempuh 40 Menit di China

Andri Haryanto - detikNews
Selasa, 25 Agu 2015 05:37 WIB
Foto: Andri Haryanto/detikcom
Beijing - Ini bukan Shinkansen atau kereta super cepat Jepang (Japanese Bullet Train). Ini CRH atau kepanjangan China Railway Highspeed, kereta cepat negeri tirai bambu yang siap menyaingi teknologi Jepang.

CRH mulai beroperasi sejak 2007 lalu. Ini menjadi moda transportasi kebanggaan China untuk menjangkau kota-kota besar di sekitarnya.

"Paling jauh Hong Kong ditempuh kurang lebih 23 jam," kata salah seorang pemandu wisata, Ayung, kepada para rombongan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andri H/detikcom


Saya mendapat kesempatan untuk menjajal kereta cepat ini. Rute yang ditempuh Beijing ke Tianjin. "Sama dengan jarak Jakarta-Bandung," kata pemandu lainnya. Jarak Stasiun Jakarta-Bandung adalah 168 kilometer. Sementara Beijing-Tianjin berjarak 160 kilometer.

Kita mulai dengan pembelian tiket senilau Β₯54,5 atau seharga Rp119.900 dalam kurs Rp 2.200 per Yuan. Tiket kereta berukuran 5x3 cm berbeda dengan tiket kereta yang dikeluarkan PT KAI yang cukup lebar dan panjang. Di dalam tiket terdapat informasi jam keberangkatan, pintu (gate) keberangkatan, boarding.

Setelah mendapatkan tiket, para penumpang akan memasuki gate dan melalui pemeriksaan metal detector. Bagi para turis, petugas akan memeriksa paspor untuk mengidentifikasi kecocokan paspor dengan tiket yang dipegang. Pemeriksaan tidak dilakukan petugas imigrasi, tapi cukup petugas kereta.

Andri H/detikcom


Selanjutnya menuju gate keberangkatan dan menunggu pintu dibuka dengan berdiri di garis antrean. Pintu akan dibuka sekitar 30 menit sebelum keberangkatan. Setelah pintu dibuka, penumpang dipersilakan masuk dan menuju rangkaian kereta berdasarkan gerbong dan kursi yang telah ditentukan.

Sesuai dengan jadwal keberangkatan yang tertera di tiket, yaitu pukul 16.15 waktu setempat, Senin (24/8/2015). Kereta mulai bergerak meluncur. Petugas pramugari menyapa salam kepada para penumpang melalui mikropon dengan berbahasa China dan Inggris. Kursi penumpang di desain 2-3 setiap gerbongnya.

Kereta perlahan bergerak dengan kecepatan 100 km per jam. Kecepatan kian bertambah menjadi 295 km per jam dalam perjalanan. Ini dapat diketahui dari indikator kecepatan yang ada di tiap ujung atap gerbong. Sebenarnya, ada beberapa varian CRH dengan kecepatan beragam, kecepatan paling tinggi adalah 400-an kilometer per jam.

Kereta berjalan mulus dan hening. Seorang rombongan bahkan mengujicoba dengan meletakkan sebatang rokok dalam posisi tegak berdiri di atas dudukan tangan kursi. Hasilnya, sepanjang perjalanan rokok tersebut tidak jatuh. "Goyangannya halus," kata salah seorang peserta.

Andri H/detikcom


Kereta berhenti sekali untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Tidak lebih dari 5 menit. Kereta melaju kembali dengan kecepatan tingginya. Tepat pukul 16.50 waktu setempat kereta tiba di Tianjin.

Ada catatan menarik selama perjalanan, yaitu tidak ditemukannya perlintasan sebidang sepanjang perjalanan. Kiri kanan perlintasan betul-betul steril dan hanya dibuat lahan hijau dengan beragam tumbuhan. Inilah yang membedakan perlintasan rel kereta di Indonesia dengan China. (gat/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads