Memakai sarung kusut dan baju berwarna putih yang sudah banyak noda serta peci warna hitam yang sudah kecokelatan, Ansori menemui wartawan tanpa alas kaki. Pria berperawakan kecil berkulit hitam ini tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat menunjukkan koper haji kepada awak media. Senyum kecil menghiasi wajahnya yang keriput, kedua bola matanya basah oleh air mata tipis.
"Saya kumpulkan uang bertahun-tahun. Saya sangat bahagia bisa berangkat," kata Ansori dalam bahasa Jawa, di rumahnya, Senin (24/8/2015).
Ansori hidup sebatang kara karena istrinya sudah lama meninggal. Sehari-hari ia tinggal sendirian di rumah dinding bambu berukuran kecil yang berdiri di atas tanah sewa. Rumah tersebut memiliki satu kamar. Seonggok kursi kayu tersandar di ruang depan.
Kondisi rumah Ansori sangat memprihatinkan. Rumah tersebut baru saja dicat warna putih karena sang empunya akan menunaikan ibadah haji. Ansori menerima wartawan di dipan bambu di di luar rumah.
Dengan mata berkaca-kaca, Ansori mengakui pekerjaan utamanya adalah mengemis, meski adakalanya dia juga bekerja serabutan di sawah-sawah milik tetangga. Penghasilan sebagai pengemis ia akui tak menentu mulai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu perhari. Uang tersebut ia alokasikan untuk makan, biaya kontrak tanah, dan menabung.
"Dulu saya nabung mulai Rp 1.000 - Rp 2.000 per hari. Akhir-akhir ini ya Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu, tergantung penghasilan," terang Ansori.
Ansori berangkat lewat salah satu KBIH di Kota Pasuruan. Ia tergabung dalam kloter 44 yang akan berangkat tanggal 8 September 2015.
(bdh/try)











































