"Tadi pagi, saya kumpulkan Gubernur, Polda, dan juga Kajati. Intinya apa? Karena kita ini ada duit begitu, kementerian ada duit, BUMN ada duit, daerah ada duit, tinggal membelanjakan. Kok enggak bisa cepat?" ujar Jokowi saat membuka rapat di Istana Bogor, Jl Juanda, Bogor, Jawa Barat, Senin (24/8/2015).
Lambatnya penyerapan anggaran dinilai karena adanya ketakutan pemerintah daerah untuk dikaitkan dengan tindak pidana. Oleh karena itu akan ada penjaminan dari kejaksaan sehingga pemda merasa aman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di hadapan pengusaha BUMN dan swasta, Jokowi juga menyampaikan bahwa dirinya bukan bermaksud menyampaikan kondisi ekonomi terkini. Tetapi dia mengajak pula para pengusaha untuk berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi.
"Dalam kondisi seperti ini, memang kita harus punya tekad, punya bahasa yang santun, punya tindakan respons yang cepat sehingga problem-problem yang ada segera bisa kita atasi," ungkap Jokowi.
Rapat dihadiri oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) Sofyan Djalil, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Selain itu, rapat juga dihadiri Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad. Beberapa petinggi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga terlihat di ruangan rapat, seperti Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto dan Dirut PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Arif Wibowo.
Perusahaan swasta dan pengusaha nasional juga ikut hadir dalam rapat terbatas tersebut. Beberapa yang sudah terlihat adalah Presiden Direktur (Presdir) PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, Direktur PT Indofood Tbk Franciscus Welirang, dan Presdir PT Vale Tbk (INCO) Chris Kanter, dan Pemilik MNC Group Hary Tanoesoedibjo. (bpn/hri)










































