"(Penanganan banjir) tentu enggak bisa satu malam, satu hari selesai. Ini proyek bisa puluhan tahun, tapi satu hal yang menguntungkan kita, mereka sudah ratusan tahun megalami kesalahan-kesalahan. They already get through many mistakes but now we could learn like a live rock, we could learn from the mistake progress," ujar Ahok.
Hal ini disampaikannya usai menjamu Ahmed dan delegasi di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2015). Mendengar itu pun, Ahmed yang berdiri di samping Ahok tersenyum dan berpesan kepadanya agar tidak perlu mengulangi kegagalan kota dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perusahaan Belanda juga yang melakukan kerja reklamasi sebenarnya. Jadi sebetulnya dengan model seperti ini kita dibantu pengalaman. Kita juga mau bantu Pelindo kan," sambung Ahok.
Diungkapkannya juga, dia ingin kerjasama antara BUMD PT Jakarta Propertindo (PT Jakpro) dengan perusahaan swasta yang diboyong Ahmed dapat memperbesar lagi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara sebagai pintu utama masuknya konteiner dari mancanegara. Konsep yang akan dikaji lagi nantinya menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan terbesar di Indonesia.
"Jadi konsepnya Tanjung Priok jika mau lebih dalam lagi ya reklamasi seperti Rotterdam. Nah itu yang kita mau tawarkan Jakpro ada proyek Pulau O,P dan Q. Misalnya reklamasi logistik berarti dari Jabar, Jateng dan Banten akan masuk," imbuh dia.
"Nah ini yang akan membuat logistik kita biaya lebih murah. Ini juga mendukung jalur tol laut dan kemaritiman yang diharapkan dari Pak Jokowi. Kita yakin kalau harga logistik bisa ditekan tentu biaya hidup kita, biaya produksi akan lebih murah. Saya kira yang cocok itu Rotterdam. Kita sudah bandingkan beberapa negara, yang paling mirip itu Rotterdam," jelasnya.
Untuk mewujudkan pembangunan pelabuhan dan reklamasi pulau itu, Ahok pun akan berkoordinasi dengan Bappenas dalam waktu dekat. Sebab proses tersebut tentu harus berjalan secara kontinyu selama beberapa masa pemerintahan.
"Kita mau libatkan Bappenas. Soal Giant Sea Wall, kami mau libatkan pemerintah pusat seperti itu. Siapa pun yang jadi gubernur dan presiden tetap bisa jalan karena ini komitmen. Nanti kita langsung tunjuk Jakpro, BUMD dan Rotterdam nunjuk perusahaan swasta. Kalau G to G mah nggak ada yang jadi, mending B to B," kata Ahok.
Mengenai rencana pembangunan proyek 3 pulau reklamasi, yakni O, P dan Q, Ahok menilai PT Jakpro sanggup. Menurutnya lebih cepat pembangunan dilakukan secara B to B ketimbang G to G.
Dia pun akan meminta pembangunan tersebut menggunakan teknologi termutakhir seperti yang dipakai oleh Belanda.
"Pulau ini kan punya BUMD. Nah ini yang harus kerjasama buat mereka yang Rotterdam, saya juga mau tahu seperti apa lelangnya, kotanya dapat berapa. Dengan reklamasi pulau, mereka juga dapat logistik, pelabuhan dan dapat keuntungan membangun infrastruktur. Jadi bisa ada kereta bawah tanah, jembatan dan lain-lain. Semua swasta, makanya kita harapkan bisa join lebih bagus. Kita butuh uang luar negeri masuk Jakarta," pungkasnya. (aws/spt)











































