Menyapa Bapak dan Ibu Bangsa

Di Balik Diamnya Boediono dan Opini Wapres Sebagai 'Ban Serep'

Mega Putra Ratya - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 14:50 WIB
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Wakil Presiden ke-11 RI Boediono memang dikenal irit bicara. Namun di balik diamnya, Boediono justru menyelesaikan banyak pekerjaan besar untuk negeri ini.

Kegiatan Boediono tidak banyak disorot publik. Media juga tampaknya kurang tertarik dengan gaya kepemimpinan Boediono yang kalem dengan pernyataan yang datar-datar saja. Tapi ya itu tadi, mungkin Boediono memiliki prinsip 'sedikit bicara, banyak bekerja'.

"Saya dari sananya begitu, sejak kepala Bappenas, Menko Ekonomi, Gubernur BI. Saya sampaikan pada saat-saat tertentu, tidak bisa setiap kali saya menyampaikan, memang bukan saya itu," tutur pria yang akrab disapa Pak Boed ini saat berbincang dengan detikcom akhir pekan lalu.



Pria berkacamata ini menyadari bahwa cara menjelaskan suatu kebijakan kepada publik itu penting. Namun, baginya bukan itu yang menjadi prioritas.

"Cara menjelaskan itu penting, tetapi sebagai pejabat yang punya tanggung jawab menyelesaikan masalah secara konkrit, tidak hanya dengan kata-kata," ungkap pria kelahiran Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943 ini.

Masih segar dalam ingatan kita bahwa istilah 'wapres hanya ban serep' kala itu menjadi populer. Istilah itu muncul setelah Jusuf Kalla pada 2009 memberi saran kepada Boediono yang menggantikan posisinya.

Namun Boediono tidak ambil pusing. Toh pada kenyataannya, Boediono dilibatkan jauh dalam program-program pemerintah oleh Presiden SBY saat itu.

"Yang penting bagi pejabat, sebagai wakil presiden membantu presiden, sesuai UU. Apa yang jadi program Presiden dibantu, Presiden dari waktu ke waktu konsultasi dengan wapres, baik atau tidak program ini, ketika itu disetujui, memang tugas konstitusional wapres harus mendukung itu, apakah itu namanya ban serep? Saya tidak tahu," ungkapnya.

Boediono mengaku selalu all out mendukung kebijakan Presiden SBY. Yang terpenting adalah hasilnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

"Apakah saya harus tampil mendampingi presiden selalu? Atau saya harus menyamakan diri saya dengan presiden? Itu hal lain, itu bukan bakat saya. Saya itu bekerja, ada hasilnya, apa nanti ada kaitannya dengan nama saya nggak penting, yang penting hasilnya ada untuk pemerintah dan rakyat," tutupnya.


(mpr/mad)