Akhir Kisah Rizal 'Rajawali Ngepret' Ramli Melawan JK

Akhir Kisah Rizal 'Rajawali Ngepret' Ramli Melawan JK

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 10:59 WIB
Akhir Kisah Rizal Rajawali Ngepret Ramli Melawan JK
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Perselisihan Menko Kemaritiman Rizal Ramli dengan Wapres Jusuf Kalla jadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Setelah sepekan jadi isu panas, akhirnya kisah menteri 'melawan' wapres ini pun usai sudah.

Awal kisahnya bermula saat Menko Kemaritiman Rizal Ramli mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah hanya sepekan setelah dilantik jadi menteri baru. Rizal mengkritik kebijakan pembelian pesawat baru Garuda Indonesia dan mengkritik program besar pemerintah Jokowi-JK membangun pembangkit listrik 35 ribu mega watt.

Kritik Menko Kemaritiman terhadap kebijakan Jokowi-JK ini ramai diberitakan media, beberapa pengamat mengkritik langkah Rizal Ramli, namun ada juga yang mendukung. Sampai kemudian Wapres JK angkat bicara, pernyataan pertama Wapres cukup keras. Wapres meminta Rizal Ramli tidak bicara tentang hal yang tak dipahaminya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya setiap kali dievaluasi, tapi begini, tentu sebagai menteri harus pelajari dulu sebelum berkomentar. Memang tidak masuk akal, tapi menteri harus banyak akalnya. Kalau kurang akal pasti tidak paham itu memang," kata JK usai berpidato di Hari Konstitusi di gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/8/2015) lalu.

Rizal Ramli bisa dibilang langsung menyerang balik JK. Rizal pun jadi menteri pertama di kabinet kerja yang berani menantang Wapres JK berdebat terbuka di depan publik.

"Pak JK minta kalau ngomong harus paham. Soal 35.000 MW? Kalau mau paham, minta Pak Jusuf Kalla ketemu saya, kita diskusi di depan umum," kata Rizal Ramli kepada wartawan di Istana Negara, di hari yang sama.

Sehari kemudian Wapres merespons tantangan Rizal Ramli ini. JK hanya tertawa kecil, namun dia mengingatkan Rizal Ramli seharusnya punya etika sebagai menteri.

"Menteri harus punya etika," ujar JK mengingatkan Rizal Ramli saat berbincang dengan wartawan di kantor wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (19/8/2015).

Presiden Jokowi pun tak tinggal diam. Jokowi langsung mengingatkan Rizal Ramli bahwa tugas seorang Menko adalah mencari solusi dan mengkoordinasikan pelaksanaan program pemerintah dengan menteri terkait.

"Itu tugasnya menteri, menko untuk mencarikan solusi, mencari jalan keluar, setiap masalah yang dihadapi oleh investasi-investor," kata Jokowi.

Di hari yang sama, Presiden menggelar rapat kabinet di Istana Negara. Dalam rapat kabinet itu Rizal Ramli kabarnya mendapat teguran dari Jokowi, JK, dan masukan dari para menteri. Setelah rapat itu Rizal Ramli memang sudah lebih tenang namun tetap pada pendiriannya untuk mengkritik hal yang menurutnya kurang pas.

Seolah tak ingin persoalan ini berlarut-larut, Presiden Jokowi memanggil Rizal Ramli secara khusus pada malam harinya. Rizal Ramli dipanggil setelah Presiden memanggil Kepala Bappenas Sofyan Djalil yang dikenal sebagai orang dekat JK.

Setelah pemanggilan itu Rizal Ramli tak lagi bicara keras soal JK. Namun Rizal Ramli tetap menempatkan dirinya sebagai angin dari luar yang kencang untuk membawa perubahan. Baginya ini semacam theory of change. Bagi Rizal Ramli, persoalan dengan JK sudah terselesaikan dengan jurus saktinya.

"Saya kan salam Presiden, habis sidang kabinet. Habis itu salam JK. Hei Pak JK apa kabar? Bagus. Jadi harus dilihat ini bagian dari transformasi. Pakai jurus rajawali ngepret," kata Rizal Ramli setelah memenuhi panggilan Jokowi.

Benar saja setelah itu isu panas hubungan Rizal Ramli vs JK mereda. Menko PMK Puan Maharani menegaskan tak ada lagi persoalan antara Rizal Ramli dengan JK, kabinet kerja pun sudah sepakat untuk solid dan tak lagi membuat isu sensasional.

"Alhamdulillah sudah oke. Seperti sepengetahuan saya, baik-baik saja. Walaupun pada saat itu terjadi perbedaan, alhamdulillah sudah baik sekarang," kata Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat No 3, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2015).

Rupanya pada sidang kabinet terakhir Rabu (19/8) lalu, disepakati anggota kabinet tidak akan membuat pernyataan yang bisa membuat gaduh. Disepakati pula segala hal yang berkaitan dengan kinerja kabinet akan dibahas di internal, tanpa memberikan informasi atau kegaduhan di luar.

"Alhamdulillah setelah sidang kabinet yang terakhir, kita sudah sepakat bahwa kita akan lebih kompak, solid, tidak membuat pernyataan yang gaduh, bahkan menimbulkan spekulasi yang sensasional," tutur Ketua DPP PDIP nonaktif ini.

Halaman 2 dari 3
(van/trw)


Berita Terkait