Menyapa Bapak dan Ibu Bangsa

Melihat Kesederhanaan Boediono dari Rumahnya

Mega Putra Ratya - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 09:00 WIB
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Rumah di kawasan Mampang Prapatan itu tampak sepi. Tidak terlihat aktifitas yang menonjol di Minggu pagi itu.

Cat putih di temboknya kusam. Bahkan langit-langitnya sebagian terkelupas termakan usia. Kelebihannya hanya ada pepohonan rimbun yang membuat teduh dan sejuk. Selebihnya, rumah dua lantai ini hanya terlihat sebagai rumah biasa tanpa kesan.

Ketika masuk ke dalam rumah, sudah bisa ditebak. Tidak ada furnitur yang istimewa, selain sofa sederhana, meja dan bufet yang usianya mungkin lebih tua dari pemiliknya. Karpet bambu tergelar di lantai rumahnya.

ruang tamu rumah Boediono (foto: Hasan Al Habsy/detikcom)


Interiornya sederhana, cenderung bergaya vintage. Tidak banyak perabotan atau hiasan. Hanya beberapa vas bunga dengan tanaman hidup sebagai penyegar ruangan.

Orang pasti tidak percaya bahwa rumah ini ditempati oleh salah satu mantan petinggi di negeri ini. Tidak ada kemewahan dan pengamanan yang ketat di dalamnya.

Adalah Boediono, wakil presiden ke-11 RI yang tinggal di rumah itu. Bayangkan, seorang mantan orang nomor dua di Indonesia tinggal di rumah yang sangat sederhana seperti itu.

"Ya, it's oke kok," ungkap Boediono ketika ditanya soal kesederhanaan rumahnya.

Ruangan di rumah Boediono (foto: Hasan Al Habsy/detikcom)


Dalam kariernya, Boediono pernah menjabat beberapa posisi-posisi penting. Di antaranya, Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan dan Kepala Bappenas.

Bukankah sebagai mantan pejabat di berbagai institusi seharusnya dia mendapat berbagai fasilitas yang layak di hari tuanya? Ya, dia memilih untuk tidak mengambil hak nya itu.

"Sudah senang di sini, nyaman," sambut Herawati sang istri.

Rumah ini sudah mereka tinggali sejak 1998. Ketika itu Boediono menjabat sebagai Kepala Bappenas.

Sebenarnya Boediono juga punya rumah di Yogyakarta. Tepatnya di Jalan Sawitsari M-2, Perum Sawitsari, Condongcatur, Depok, Sleman.

"Ada rumah di Yogya. Kadang pulang ke Yogya, kadang seminggu sekali pulang, tergantung kalau ada acara, fleksibel," tutur Boediono yang mengenakan kemeja lengan pendek ini.

Nopen, staf pribadi Boediono, bercerita soal sosok kesederhanaan pria kelahiran Blitar, 25 Februari 1943 itu. Boediono memang tidak pernah mau menggunakan fasilitas negara, terlebih untuk kepentingan pribadi.

Selepas tugas sebagai wapres, Boediono mengembalikan semua fasilitas itu kepada negara. Nopen sendiri yang mengembalikan semua itu atas perintah Boediono.

"Semua fasilitas negara dikembalikan. Bapak bilang 'Saya sudah tidak menjabat, ada yang menjabat yang berkepentingan dalam memikirkan negara, dia lebih berhak daripada saya'" kata Nopen menuturkan.

Semoga kesederhanaan Pak Boed diikuti oleh para pejabat di negeri ini.


(mpr/Hbb)