Kabut Asap, Diknas Riau Imbau Sekolah Diliburkan
Jumat, 25 Feb 2005 16:22 WIB
Pekanbaru - Kondisi kabut asap di Riau kian parah. Udara di Pekanbaru serta sejumlah kota lainya masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Berdasarkan pertimbangan tersebut, Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Provinsi Riau mengeluarkan surat edaran agar siswa diliburkan. Kadiknas Provinsi Riau Tengku Dahril mengungkapkan hal itu saat dihubungi detikcom, Jumat (25/2/2005) di Pekanbaru. Menurutnya, pihaknya hari ini mengeluarkan surat edaran ke Dinas Pendidikan di kabupaten dan kota se-Riau untuk meliburkan sekolah bila kondisi asap di daerah tersebut menunjukan pada kondisi sangat tidak sehat. "Imbauan ini kita sebarkan ke sejumlah Diknas di kabupaten dan kota untuk mengambil langkah sendiri dalam menentukan libur atau tidaknya sebuah sekolah. Bila kondisi asap di suatu kabupaten dinyatakan pihak Dinas Kesehatan sudah membahayakan, sebaiknya sekolah diliburkan," jelas Tengku. Jika siswa diliburkan, pihaknya mengimbau agar para guru tidak lupa memerikan pekerjaan rumah (PR) kepada siswanya. Pemberian PR tersebut agar para siswa tetap dapat belajar di rumahnya masing-masing. "Libur sekolah ini sifatnya hanya sementara sampai kondisi asap tidak lagi masuk dalam kategori membahayakan," katanya.Bila kondisi kembali pulih, kata Tengku, untuk mengejar ketertinggalan jam belajar apalagi menjelang ujian dan Ebtanas, pihaknya berharap agar masing-masing sekolah memberlakukan jam ekstra belajar. Misalnya, selain belajar mengajar seperti hari biasa, pihak sekolah harus menambah kembali jam pelajaran minimal 2 jam dalam setiap hari.Bila menjelang Ebtanas yang diselenggarakan secara nasional pada bulan April masih terjadi kabut asap, menurutnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan Diknas di Jakarta.Sementara itu, anggota DPRD Riau, Mukti Sanjaya menilai untuk langkah cepat mengenai kesehatan mungkin bisa dilakukan peliburan sekolah. Namun yang menjadi masalah, soal kebakaran lahan dan hutan bukan kali ini terjadi di Riau. Artinya, inti persoalan itu bukan pada meliburkan anak sekolah, melainkan bagaiman keseriusan pemerintah menangani masalah kebakaran itu sendiri."Kalau terus menerus sekolah kita liburkan, rasanya akan menimbulkan kesan seolah-olah langkah itu sudah paling tepat. Tapi kalau kita kaji dari segi pendidikan itu sendiri, dengan sering meliburkan siswa ini sama saja proses pembodahan. Dengan meliburkan seolah-olah pemerintah lepas tanggung jawab," kata Mukti yang berasal dari Fraksi PKS ini.
(nrl/)











































