Ricuh di Kampung Pulo, Operator Backhoe Tetap Bertugas Demi Normalisasi Ciliwung

Ricuh di Kampung Pulo, Operator Backhoe Tetap Bertugas Demi Normalisasi Ciliwung

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jumat, 21 Agu 2015 17:05 WIB
Ricuh di Kampung Pulo, Operator Backhoe Tetap Bertugas Demi Normalisasi Ciliwung
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Relokasi warga dengan menggusur permukiman di bantaran Kali Ciliwung di Kampung Pulo, Jaktim, mendapat hambatan kala massa melakukan perlawanan terhadap aparat, Kamis (20/8).

Bukan hanya menyerang aparat dengan batu, botol dan benda-benda yang bisa melukai, massa yang kalap juga membakar alat berat backhoe yang berada di 'arena' bentrokan. Berjam-jam setelah kericuhan mereda, bunyi mesin dari alat berat mulai terdengar.

Ada 6 backhoe yang diterjunkan merobohkan bangunan yang jadi biang keladi penyumbat aliran Kali Ciliwung. Penggusuran permukiman bantaran kali memang penting agar program normalisasi kali berjalan dengan harapan pencegahan banjir di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada Jefry Siregar di balik kemudi salah satu backhoe yang menyala menyapu bangunan di bantaran kali. Sudah 5 tahun Jefry menjadi operator backhoe milik Dinas Pekerjaan Pemprov DKI.

Saat ditemui, Jumat (21/9/2015), Jefry menuturkan dirinya baru pertama kali bertugas mengendalikan mesin backhoe untuk meratakan rumah warga.

Jefry, pindahan dari Kalimantan ini sebelumnya memang pernah bertugas mengeruk sedimen di Waduk Pluit juga untuk program normalisasi.

"Sebelumnya di Waduk Pluit, begitu kemarin rame di sini ditugaskan untuk membantu pekerjaan disini," ujarnya.

Membersihkan Waduk Pluit tentu tak bisa dibandingkan dengan merobohkan rumah warga. Soal perasaan iba, selalu terlintas di pikirannya.

"Kadang kita mikir juga, bagaimana nasib kita kalau tempat tinggal harus diratakan seperti ini. Tapi ya namanya tugas kita harus melaksanakan dengan baik," kata dia.



Begitu juga dengan Andi Sibutar-butar. Operator backhoe ini selalu membayangkan dirinya berada di posisi warga yang digusur.

"Anak ada tiga. Nggak kebayang kalau tiba-tiba rumah harus digusur seperti ini," katanya.

"Justru lebih parah lagi kalau meratakan rumah milik warga dibanding buka jalan di hutan-hutan. Kalau begini kita lagi kerja tiba-tiba di timpuk batu, nyawa kita bisa terancam juga, yang lebih parah kalau dibakar bisa habis kita," ujar Andi.



(edo/fdn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads