Menengok ke belakang, saat kampanye Pilpres 2014 lalu, ada pernyataan Fahri Hamzah yang juga menjadi kontroversi. Seperti diketahui saat itu pria asal Sumbawa, NTB, itu berdiri di barisan pendukung Prabowo-Hatta. Nah, dalam salah satu 'serangan' politiknya, Fahri mengomentari janji kampanye Jokowi ke para santri soal Hari Santri Nasional. Saat itu Fahri mengkritik gaya kampanye Jokowi yang dinilainya terlalu banyak mengumbar janji.
"Jokowi janji 1 Muharram hari Santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" kicau Fahri di akun twitternya @fahrihamzah pada 27 Juni 2014 sekitar pukul 10.40 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fahri diserang, Fahri meradang. Dia merasa kicauannya disalahartikan. Fahri menegaskan yang dikritiknya adalah cara Jokowi mengumbar janji, bukan substansi janjinya soal Hari Santri.
Namun pernyataan Fahri terlanjut menggelinding jauh, bahkan disebut-sebut membawa kekalahan ke kubu Prabowo-Hatta. JK menyebut 'blunder' Fahri itu sebagai salah satu dari lima faktor kemenangan kubunya.
"Fahri telah membuat blunder dengan perkataan sinting itu. Kalangan santri marah dan tak sedikit yang berbalik mendukung Jokowi-JK. Sedangkan soal Kalpataru, Hatta salah fatal. Masyarakat sudah cerdas memahami dan menilai," papar JK 17 Juli 2014 lalu.
Kini Fahri kembali melontarkan kontroversi. Di tengah diskusi soal 7 proyek DPR di salah satu televisi swasta pekan lalu, mantan KetuaΒ Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini menyebut banyak yang jadi anggota DPR rada-rada bloon.
"Orang dalam demokrasi tidak dipilih karena disukai oleh pimpinan negara atau ditunjuk presiden, tapi dipilih oleh rakyatnya sendiri. Bukan karena dia cerdas tapi karena rakyat suka dia. Makanya kadang-kadang banyak orang datang ke DPR ini tidak cerdas, kadang-kadang mungkin kita bilang rada-rada bloon begitu. Tetapi dalam demokrasi, kita menghargai pilihan rakyat. Karena itu, kita memberikan kekuatan kepada otak dari orang-orang yang datang ke gedung ini dengan memberikan mereka staf, dengan memberikan sistem pendukung, pusat kajian, ilmuan, peneliti, dan lain-lain. Itulah cara kerja lembaga demokrasi. Ini tentunya memerlukan fasilitas," kata Fahri dalam diskusi tersebut.
Pernyataan ini langsung direspons oleh kalangan internal DPR. Anggota Fraksi PDIP Adian Napitupulu jadi yang pertama protes atas pernyataan itu. Fahri dianggap telah menghina anggota-anggota DPR.
"Entah apa maksud Fahri secara terbuka menghina anggota-anggota DPR di hadapan berjuta penonton TV. Entah kepuasan macam apa yang ada di hati Fahri setelah ia merendahkan 559 sejawatnya di DPR," kata Adian dalam keterangannya, Rabu (19/8/2015).
Adian bahkan mendorong Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) memproses Fahri. MKD pun merespons, mereka menunggu aduan yang masuk soal pernyataan 'rada-rada bloon' itu.
"Ya kalau ada bukti, ada pengaduan, kita akan musyawarahkan dengan pimpinan," kata Ketua MKD Surahman Hidayat saat ditanya soal pernyataan Fahri, Kamis (20/8) kemarin.
Protes atas pernyataan Fahri tak berhenti di Adian. Ruhut Sitompul juga protes dengan pernyataan itu. Bahkan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan juga angkat bicara.
"Mas Fahri sahabat saya. Kita perlu ingatkan, semua anggota DPR cerdas," kata Taufik di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2015).
Ditanya soal protes koleganya di DPR, Fahri belum mau bicara. Dia tak mau berkomentar soal protes yang datang kepadanya.
"Saya tak mau tanggapi, itu tidak relevan," kata Fahri Hamzah saat dimintai tanggapannya atas protes Adian. Wawancara dengan Fahri terjadi di Gedung Nusantara III DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (20/8/2015).
Jika dulu kicauan 'Jokowi Sinting!' disebut membawa kekalahan Praboo-Hatta, ke mana Fahri Hamzah akan dibawa kontroversi 'rada-rada bloon'?
Halaman 2 dari 1










































