Mantan Wakil Presiden Try Sutrisno masih tampak bugar ketika menghadiri sebuah perhelatan perayaan kemerdekaan RI di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Berpakaian sederhana layaknya seorang abdi negara, Try masih banyak dikenal orang.
Waktu itu hari Minggu sore (16/8/2015) ketika Try datang satu jam sebelum acara dimulai. Kedatangan dia langsung disambut hangat oleh para pengunjung dan berbincang tanpa jarak.
Satu per satu pertanyaan dilayangkan dan dijawab detil oleh Try yang bisa dibilang ikut menyaksikan sejarah perjuangan bangsa. Karirnya berpuncak pada posisi Wakil Presiden RI periode 1993-1998 dan kini sehari-hari dia banyak mengisi kegiatan sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panitia acara memberikan kesempatan detikcom untuk berbincang dalam sebuah ruangan kantor pengelola. Di situ Try banyak bercerita tentang kegigihan para pahlawan yang selayaknya dilanjutkan oleh generasi penerus bangsa.
Air mineral dan buah-buahan menemani perbincangan kami. Ada pula para tamu yang ikut dalam perbincangan santai sore hari itu, mereka sesekali menambahkan cerita dari Try.
"Saya senang wayang. Sekarang disamping pagelaran, ada yang menggelar wayang di rumah Marsekal Muda Teddy Rusdi. Setiap bulan saya diundang. Rumahnya di daerah Pondok Indah," kata Try.
Cerita pewayangan menurut Try amat sarat akan pesan-pesan moral. Karakter yang ada di dalam tokoh pewayangan sangat kuat, sehingga selain bisa menjadi tontonan, wayang juga bisa jadi tuntunan dan nantinya menjadi tatanan masyarakat.
"Dari aspek kerakyatan saya suka Semar. Tahu Semar kan? Lambang rakyat. Seorang satria yang diikuti rakyat, dia punya leadership yang baik. Dari aspek perang, saya senang Bima. Dia besar dan tegas. Kalau dari segi kesucian, saya suka Anoman. Kera putih, sakti, hatinya baik, membela kebaikan. Pengabdian Anoman sangat panjang, dari zaman Ramayana sampai Baratayudha. 'Nom-noman', tahu ya? Bahasa Jawanya masa muda," ujar Try.
Amat santai dan mengalir pada pembicaraan sore itu, sampai-sampai tak menyangka bahwa dia pernah menjadi orang nomor dua RI di masa orde baru. Kesederhanaan Try terlihat dari gaya bicaranya sampai tak minta lebih dari sekedar air mineral.
Semakin santai ketika pengelola memutarkan alunan musik keroncong. Terlihat kaki Try sesekali bergoyang menikmati alunan musik nan indah itu.
"Keroncong saya semua suka. Engga paham yang lain. Kalau ke luar negeri bawa musik keroncong, jadi kalau kangen Indonesia setel musik itu. Keroncong ada macam-macam, ada langgam, keroncong, dan stambul. Dewi murni, keroncong. Keroncong Kemayoran, Bandar Jakarta, lalu ada Stambul Baju Biru. Langgam Bengawan Solo disenangi di Jepang. Sampai-sampai teksnya diganti ke bahasa Jepang. Di sana jatuh cinta," tutur Try.
"Setiap bangsa punya seni budaya. Itu yang menentukan jati diri. Jangan sampai luntur," ungkap Try kemudian.
(bpn/mad)











































