Di sebuah sudut Ibu Kota ada tempat layaknya alun-alun di mana patung kedua Proklamator berdiri. Tempat bernama Tugu Proklamasi itu kali ini kedatangan tamu istimewa yang merupakan mantan Wakil Presiden RI, Try Sutrisno.
Acara masih dimulai satu jam lagi sesuai jadwal, tetapi mobil Mitsubishi Pajero Sport merah telah datang dan tanpa pengawalan pada Minggu sore (16/8/2015). Dari situ turun sosok yang sudah tua, tetapi masih berdiri tegak. Dialah Try Sutrisno.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas dia bercerita mengenai perjuangan para pahlawan merebut kemerdekaan. Dari ceritanya seakan dia mengalami langsung peristiwa-peristiwa heroik bersama para angkatan '45.
"Saya bukan angkatan '45. Sewaktu perang gerilya itu umur saya baru 13 tahun. Dulu masih jadi kacungnya tentara. Pesuruh, bersihkan senjata, sepatu, bawa makanannya," kata Try.
Tak terbayang bagaimana Try yang begitu gagahnya rupanya berawal dari seorang 'kacung'. Tanpa ragu dia bercerita tentang masa kecilnya itu.
"Suatu ketika saya diminta masuk wilayah Belanda. Sebagai intelijen. Dulu ada 2, daerah Republik dan daerah yang diduduki Belanda. Ada garis status quo di trowulan. Dijaga marinirnya Belanda, kalau lewat ditembak kamu. Karena saya anak kecil, melambung dari sawah daerah republik masuk ke sawah daerah Belanda," kenang Try.
Rupanya kesetiaan Try menjadi kacung akhirnya berbuah pada kepercayaan dari para seniornya. Tentu aksi intelijen semacam ini sangat berbahaya dan tak semua orang bisa melakukan.
Akhirnya setelah berhasil memasuki Surabaya, Try langsung mencari kantung-kantung gerilya dan menyampaikan pesan yang dititipkan. Semua informasi di zaman belum ada telepon genggam itu disampaikan sekaligus obat-obatan lengkap.
"Dulu ada TRIP, Tentara Republik Indonesia Pelajar di Jatim. TGP atau Tentara Genie (baca: seni) Pelajar, dan Tentara Pelajar. Akhirnya suatu ketika dikonsolidir jadi TNI. Ini harus tahu kamu. Nah, pangkat saya di bawah itu waktu itu," ujar Try.
Waktu demi waktu berjalan dan akhirnya Try masuk TNI. Kariernya bisa dibilang cemerlang di sana itu dan loyalitasnya tak diragukan lagi. Dari menjadi ajudan Presiden Soeharto, kemudian hari dia pun terpilih untuk menjadi Wakil Presiden tahun 1993-1998.
"Saya sudah lewat jalan berlumpur oleh Tuhan, bangga saya. Kalau lewat jalan tol mungkin kesasar. Karena penggemblengan itulah, tertanam dalam jiwa saya," ungkap Try.
(bag/hri)












































