Rabu (19/8/2015) malam, Elanto mengobrol dengan beberapa temannya di sebuah angkringan Jl Mangkubumi Yogyakarta. Mereka berdiskusi soal konvoi moge, banyaknya hotel di Yogya, dan persoalan sosial lain. Obrolan terkesan serius, tapi santai.
Di sela obrolan, Elanto bisa diajak berbincang soal sosok dan aksinya. Ia menyebut dirinya memang penggila sepeda ontel, biasa naik sepeda rakitan sendiri dari rumah ke tempat kerja di Sewon, Bantul. Jarak rumah ke tempat kerja kurang lebih 18 kilometer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal aksinya mencegat moge di perempatan Condong Catur, Yogyakarta, Sabtu (15/8), Elanto mengaku hal itu sudah disiapkan sebelumnya. Ia tidak takut dan sudah memikirkan risikonya. Lokasi aksi berada di tempat terbuka, sehingga jika terjadi apa-apa, pasti banyak yang melihat.
"Saat itu, konvoi melanggar lampu merah. Di situ polisi tidak menghentikan, hanya memberikan aba-aba untuk melambat. Padahal arus cukup panjang dan terjadi kemacetan," kata lulusan Arkeologi UGM ini.
Aksi tersebut menyebar di media sosial. Terjadi kontroversi. Banyak yang mendukung, sebagian menentang. Organisasi moge hingga polisi berkomentar.
Setahun lalu, aksi serupa pernah dilakukan di perempatan Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Namun, diakui Elanto, aksi tersebut tak seramai sekarang. "Semoga yang kemarin (aksi mencegat konvoi) bisa menjadi aksi kolektif warga yang resah. Ini momentum tepat untuk melakukan evaluasi," jelasnya.
Beberapa hari setelah mencegat konvoi moge, Elanto dan sejumlah teman beraudiensi dengan Ditlantas Polda DIY. Ada 4 hal kesepakatan, di antaranya soal sosialisasi ketentuan pengawalan konvoi hingga perlunya masukan warga jika konvoi digelar di kawasan tertentu.
"Jika tidak konsisten, kami akan mengingatkannya," katanya.
Bagi Elanto, event Jogja Bike Rendezvous yang digelar di Candi Prambanan pada 17 Agustus lalu terkait dengan persoalan lain. Seperti maraknya pembangunan hotel dan ruang publik Yogyakarta.
"Yogya sekarang menjadi ladang komersialisasi. Karena setiap ruang didesain untuk komersial. Pertanyaan besar, bagaimana dan kenapa itu terjadi?" katanya.
Menurut Elanto, konvoi moge hanya salah satu dari sekian masalah yang dihadapi di Yogya. Kegiatan itu harus dievaluasi dan perlu dikomunikasikan dengan kelompok masyarakat lain. "Misalnya, apakah benar di Yogya ini cocok untuk kegiatan motor gede? Soalnya, jalanan di Yogya tidak lebar, pendek-pendek, dan padat," kata Elanto.
Elanto siap dipertemukan dengan komunitas moge. Terutama untuk mengevaluasi kegiatan Jogja Bike Rendezvous yang berlangsung setiap tahun. Harapannya, warga bisa menerima dengan lapang dada kehadiran moge. Ujungnya, tidak ada lagi pencegatan atau masalah saat konvoi moge. (hri/hri)










































