"Waktu itu tahun 60-an ada kebakaran hebat, warga dipindah ke sini. Waktu itu disuruh milih sendiri patok rumahnya," papar Mak Ati yang ditemui di Kampung Pulo, Kamis (20/8/2015).
Mak Ati kini tinggal menumpang di rumah anaknya yang tak digusur. Jatah rumah dia di Rusun diberikan ke menantunya. Dia tak mau tinggal di Rusun karena dianggapnya terlalu elite.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mak Ati masih merasakan mudahnya mencari ikan di Ciliwung. Air juga jernih dan bersih. Tapi kemudian semua berubah, setiap tahun dia selalu terkena banjir. Mak Ati juga rela digusur hanya saja dia meminta agar masyarakat diberikan keadilan. (dra/dra)











































