Uji coba dilakukan di depan kantor Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dan rombongan dari perusahaan berlabel Torqeedo asal Jerman juga ikut berkeliling dengan perahu yang terpasang teknologi Torqeedo.
Ganjar Pranowo mengatakan dengan teknologi tenaga surya tersebut bisa menjadi salah satu alternatif energi terbarukan. Selain itu mesin tersebut tidak bising dan tidak mencemari air laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, harga untuk satu perangkat yang diaplikasikan ke satu perahu masih sangat mahal yaitu sekitar Rp 250 juta. Oleh sebab itu jika kedepannya banyak nelayan yang tertarik, maka bisa kerjasama dengan perbankan.
"Dananya perlu uluran tangan perbankan, maka ini jangka panjang. Hitung-hitungan BEP dibanding menggunakan solar ya sekitar 3 tahun setelah itu dia (nelayan) untung," terangnya.
![]() |
"Tidak bising, enak. Dilatih baru tiga hari, sudah bisa, gampang," pungkas Mansyur.
"Ya kalau ini mesin diberikan saya senang sekali," imbuhnya.
Franklin Tambunan, selaku Torqeedo Consultant business development Indonesia mengatakan panel surya bisa men-charger baterai mesti kondisi cahaya matahari tidak terlalu terang contohnya pada sore hari. Kapasitas baterai juga mencukupi untuk one day one fishing.
"Meski cahaya matahari sedikit bisa isi baterai seperti kemarin dicoba pukul 18.30. Kemarin kita dari Morodemak dengan kecepatan 8km/jam hanya dengan baterai 40%. Dalam waktu tertentu memang tidak menggunakan baterai karena matahari menggerakkan mesin," terang Franklin.
Pada perahu milik Mansyur tersebut, terlihat atap perahu tertutup dengan panel surya. Kabel-kabel anti air terpasang rapi menyambung ke dua mesin yang berada di bagian belakang. Mesin tersebut memiliki kecepatan maksimal 13 km/jam dengan sistem navigasi yang dilengkapi GPS sehingga nelayan bisa langsung menuju lokasi yang memiliki potensi banyak ikan. (alg/try)












































