Pribadi Dialogis, Modal Dialog Antar Umat Beragama

Pribadi Dialogis, Modal Dialog Antar Umat Beragama

Salmah Muslimah - detikNews
Kamis, 20 Agu 2015 14:09 WIB
Pribadi Dialogis, Modal Dialog Antar Umat Beragama
Foto: Salmah Muslimah
Jakarta - Masyarakat Indonesia yang majemuk dengan beragam suku, bangsa dan agama memang rentan diterpa konflik. Salah satu contohnya adalah konflik di Tolikara, Papua, terkait penyerangan saat umat muslim salat Idul Fitri. Penyerangan itu menghanguskan puluhan kios dan satu masjid.

Namun masalah seperti itu bisa dihindari jika antar umat beragama saling terbuka, menghargai dan toleransi seperti dikutip dari Nurcholis Madjid. Dalam buku Fikih Kebinekaan terbitan Maarif Institut disebutkan 3 hal itu merupakan kunci terwujudnya hubungan antar umat beragama yang harmonis.

Tulisan M Tafsir di halaman 204 menyatakan antar agama memiliki semangat yang sama untuk berbuat kebaikan. Setiap pemeluk agama menampilkan kesamaan semangat iman kepada Tuhan, berbuat baik, kepedulian kepada kaum lemah, ketidakadilan dan penyelewengan-penyelewengan sosial lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Semangat inilah yang juga bisa menjadi dasar membangun relasi sosial antar umat beragama," ujar Tafsir.

Selain sikap di atas ada hal lain yang bisa mewujudkan hubungan antar umat beragama yang harmonis, yakni perlunya pribadi dialogis. Pribadi ini adalah mental yang dapat menjadi modal dasar seseorang untuk mampu melakukan dialog antar umat beragama sebagai wujud relasi sosial.

Pribadi dialogis yang dikutip Tafsir dari buku Hendropuspito "Sosiologi Agama" memiliki 3 ciri. Pertama utuh dan autentik, utuh diartikan memberi tanggapan kepada orang lain tidak setengah-setengah dan berbicara dengan sepenuh hati. Sedangkan autentik ialah seseorang menghargai orang lain sebagai pribadi, bukan memperalatnya untuk kepentingan pribadi.

Ciri kedua adalah terbuka yakni bersedia dan sanggup mengungkapkan diri kepada orang lain, bersedia dan sanggup mendengar dan menerima ungkapan dari orang lain, kritik sekalipun.

Ketiga disiplin yaitu mematuhi secara bertanggung jawab tata tertib dialog. Bicara jika ada sesuatu yang harus dikatakan atau berbuat jika ada sesuatu yang harus diselesaikan tanpa harus keluar konteks pembicaraan yang ada.

Tafsir menambahkan sekalipun upaya relasi sosial antar umat beragama terus dilakukan, namun hubungan agama ini tetap menjadi fenomena yang sensitif. Apalagi jika pemahaman ini hanya menyentuh level elite dan tidak sampai kepada akar rumput.

"Oleh karena itu, relasi yang ada ini perlu diimplementasikan pada level yang lebih luas tanpa harus kehilangan identitas agama masing-masing," tutupnya. (slm/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads