Hamzah Haz Cerita Soal 'Hadiah' Menjadi Wapres

Menyapa Bapak dan Ibu Bangsa

Hamzah Haz Cerita Soal 'Hadiah' Menjadi Wapres

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Kamis, 20 Agu 2015 13:48 WIB
Hamzah Haz Cerita Soal Hadiah Menjadi Wapres
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Wapres RI periode 2001-2004 Hamzah Haz kini menarik diri dari dunia politik dan memilih untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Tak sedikit pun ada penyesalan dalam dirinya ketika meninggalkan gegap gempita perpolitikan nasional yang selalu panas untuk dibahas.

Di sebuah ruang kerja dalam rumahnya di Jl Patra Kuningan XV, Jakarta Selatan sebuah bendera Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masih terpasang. Duduk di sofa tengah, Hamzah pun bercerita kepada detikcom tentang bagaimana dia terpilih menjadi Wakil Presiden di tahun 2001.

"Itu urusan Allah, kalau dipikir secara akal kan tidak mungkin (saya jadi Wapres), saingan kita Akbar Tandjung, kan Golkar banyak di DPR/MPR daerah banyak," ujar Hamzah memulai ceritanya pada Rabu malam (12/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akbar Tandjung saat itu merupakan Ketum Golkar sekaligus Ketua DPR RI. Ketika itu Presiden dan Wakil Presiden merupakan mandataris MPR, sehingga pemilihannya dilakukan lewat dewan.


Dituturkan pula oleh Hamzah ketika partai Islam banyak bermunculan sehingga kantung suara PPP pun berkurang. Hamzah sendiri pernah mundur dari jabatan menteri untuk mengurus partai sehingga merasa ketokohannya kalah dari Akbar.

"Mengapa saya maju wapres? Golkar yang minta saya itu, tanya Slamet Effendy Yusuf, tanya Marzuki Darusman. Mereka undang saya di hotel, 'Golkar minta pak Hamzah calon wapres', 'apa benar?', 'benar', 'baik kalau benar begitu', sampai saya mau mencalonkan akhirnya," kata Hamzah.

Tetapi kemudian di hotel tersebut juga ada Akbar Tandjung. Hamzah Haz kala itu langsung bertanya ke Slamet Effendy, dan benar saja bahwa Golkar juga akan mencalonkan Akbar.

"Habis itu dia (Slamet Effendy) saya marahin. Setelah itu PDIP yang kemudian mendukung saya. Kalau hanya suara PPP, PDIP, PKS, PAN PKB tidak seberapa suaranya dibanding Golkar dan lainnya. Jadi itu dari Allah, intinya pendukung pengganti Golkar itu PDIP. Makanya bertarung terakhir hitung di atas kertas kalah saya, dulu ada SBY, Siswono, Agum Gumelar, Akbar, saya, yang lain habis, tinggal akbar dengan saya. Hitung di atas kertas kalah. Itu semua karena Allah," tutur Hamzah.

Tak terasa waktu berlalu dan semakin malam ketika Hamzah bercerita. Tetapi ingatannya masih kuat untuk menceritakan secara detil kepada detikcom sehingga sayang untuk dilewatkan. Sesekali Hamzah berdehem dan terbatuk, tetapi semangatnya untuk berbagi cerita tak terhalang.

Akhirnya Hamzah terpilih menjadi Wapres untuk mendampingi Presiden Megawati Soekarnoputri kala itu. Sebuah capaian ak terduga bagi Hamzah karena sejak awal tak ada ambisi sedikit pun untuk melangkah ke jabatan orang nomor dua Republik Indonesia.

"Mungkin ini hadiah dari saya karena mundur dari jabatan menteri dan memilih mengurus partai Islam," ungkap Hamzah kemudian.

(bpn/mad)


Berita Terkait