Dari Indonesia, dua tokoh Islam yang hadir adalah Ketum MUI Din Syamsuddin dan Wakil Direktur Pusat Studi Islam Universitas Nasional (Unas). Hadir juga aktivis Green Faith Nana Firman, warga negara Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat.
Tokoh-tokoh muslim ini bertemu dalam International Symposium on Islamic Climate Change 17-18 Agustus 2015 di Hotel Retay Royale, Istanbul, Turki. Simposium ini menghasilkan deklarasi tentang pandangan dan sikap umat Islam terhadap masalah perubahan iklim dan pemanasan global, termasuk soal panas ekstrim yang melanda beberapa negara seperti India, Pakistan, dan Mesir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Islam adalah agama alam (religion of nature) dan membawa pesan kerahmatan dan kesemestaan (rahmatan lil alamin). Maka, seyogyanya umat Islam tampil sebagai leader dalam menanggulangi kerusakan global yang bersifat akumulatif," kata Din dalam siaran pers yang diterima detikcom, Rabu (19/8/2015).
Din juga menegaskan perlu ada sistem baru di negara-negara industri dunia yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Sistem baru ini harus bertumpu pada nilai-nilai moral dan etika keagamaan.
"Dalam kaitan ini, perlu dirumuskan nilai-nilai etika bersama (shared ethical values) untuk penanggulangan perubahan iklim dan pemanasan global tersebut," ujar Din.
Deklarasi dan pikiran-pikiran dari Simposium Istanbul ini akan disampaikan pada forum dunia lanjutan, antara lain: Konferensi Agama-agama untuk Pembangunan Berkelanjutan di Bristol, Inggris, 8-9 September, dan COP 2015 di Paris yang melibatkan wakil-wakil Negara dan masyarakat madani dari seluruh dunia. (tor/faj)










































