Kadis Pertamanan dan Pemakaman DKI Ratna Dyah berpendapat sistem elektronik bisa mengurangi pungutan liar yang kerap terjadi di areal pemakaman. "Dengan adanya makam online nggak ada lagi yang pungli. Masyarakat langsung ke PTSP saja. Kalau ada yang meninggal, dia buka makam kosong di mana. Kasih tahu PTSP kasih tahu yang bersangkutan," kata Ratna saat dihubungi, Selasa (18/8/2015).
Adapun alasan pemilihan 3 TPU tersebut dikarenakan dinilai paling siap secara sistem. "Tambah lagi sekitar 14 makam yang di-online-kan di seluruh DKI. (3 TPU) ini datanya yang paling lengkap dulu, harus siap datanya baru kita uji coba dulu. Kalau bagus, kita lanjut mungkin September," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ahok sempat menyoroti banyaknya pungli terjadi di pemakaman. Di mana, banyak orang yang mengalami kesulitan mendapatkan makam karena dipungut biaya besar.
"Kita hari ini izin makam elektronik. Orang ngeluh banyak calo kuburan. Banyak yang isinya kosong sebenarnya. Ada teman dapat tempat di depan, katanya bayar Rp 15 juta supaya dapat. Jadi kita belum merdeka 70 tahun masih di ancam penjahat berbaju pejabat," kata Ahok. (aws/aan)











































