Seperti terlihat dalam perayaan HUT ke-70 RI, Senin (17/8/2015), tampak sekitar 10 orang masyarakat adat laki-laki yang menggunakan koteka. Sebagian datang dari kampung-kampung yang berada di atas pegunungan.
Mereka hadir saat upacara pengibaran Bendera Merah Putih di pagi hari dan penurunan saat sore harinya. Di sela-sela waktu itu, para masyarakat adat berkoteka ini tampak menikmati menonton acara perlombaan panjat pinang. Bahkan mereka ikut tertawa kala peserta lomba melorot berkali-kali saat berusaha mengambil hadiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya datang ingin lihat," ucap Nicholas saat berbincang dengan detikcom di pinggir Lapangan Trikora Ilaga tempat berlangsungnya upacara.
Para masyarakat adat berkoteka ini sudah tidak membawa panah dan busurnya karena memang peraturan di Kabupaten Puncak, khususnya Ilaga, tidak memperbolehkannya. Meski biasanya cenderung tertutup, masyarakat adat di Ilaga tampak dekat dengan personel TNI/Polri.
Menurut salah seorang anggota Satgas Brimob Kabupaten Puncak, Bripda Ryan Aliansyah, masyarakat adat di Ilaga memang cukup ramah. Mereka mau menerima dengan baik para pendatang dan mematuhi aturan serta menghormati aparat.
"Mereka sebenarnya nggak berbahaya. Cuma memang pakaian adat masih kuat di sini, tapi hati mereka sebenarnya baik. Mau menerima pendatang, mau dengar apa kata kita," kata Ryan dalam kesempatan yang sama.
Kesulitan bagi personel Brimob ataupun TNI yang merupakan BKO seperti Ryan adalah pada bahasa. Pasalnya masyarakat adat masih kental berbicara dengan bahasa daerahnya dan hanya sedikit bisa berbicara Indonesia. Namun selama hampir 7 bulan bertugas, kata Ryan, belum ada kerusuhan yang terjadi di Ilaga. Termasuk dari masyarakat adat ini.
"Kalau sampai sekarang nggak ada keributan, mereka mau dengar kita punya arahan. Mereka tinggal di Honai (rumah khas pedalaman Papua), tapi ada juga yang di gunung," tutur pria asal Ambon ini.
"Mereka tidak lagi bawa busur karena ada larangan. Itu peraturan supaya tidak ada bentrok lagi seperti dulu tahun 2011. Kalau ada yang bawa akan disita," imbuh Ryan.
Sebenarnya selama kurun waktu beberapa tahun terakhir, hanya sedikit warga yang masih mempertahankan menggunakan koteka. Mereka disebut Ryan sudah banyak beradaptasi terutama karena saat ini di Puncak, terutama Ilaga, banyak pendatang dari luar Papua.
"Dulu mayoritas begitu (memakai koteka), tapi begitu pembentukan Kabupaten Puncak banyak pendatang, mereka sudah mulai beradaptasi. Mungkin malu juga, apalagi yang muda-muda. Kalau di Distrik sebelah di Gome masih banyak yang pakai. Apalagi yang di daerah pegunungan," jelas Ryan.
Baik pemerintah daerah termasuk aparat pengamanannya sebenarnya sudah berkali-kali memberikan pakaian. Mengingat di daerah Puncak suhunya sangat dingin, apalagi belakangan cuaca sangat ekstrem hingga menyebabkan hujan es.
"Memang budayanya begitu, ada beberapa yang dikasih pakaian tidak mau. Mereka bilang sudah bersumpah dengan nenek moyang untuk pakai koteka terus," tutup Ryan. (ear/imk)











































