Kisah Veteran asal Kanada saat Perang Melawan Jepang di Pasifik

Peringatan 70 Tahun RI

Kisah Veteran asal Kanada saat Perang Melawan Jepang di Pasifik

Dhani Irawan - detikNews
Senin, 17 Agu 2015 15:47 WIB
Kisah Veteran asal Kanada saat Perang Melawan Jepang di Pasifik
(Dubes RI untuk Kanada Teuku Faizasyah bersama Robert H. Farquharson-sebelah kanan) Foto: Istimewa
Ottawa - Memperingati hari kemerdekaan saat berada jauh dari tanah air, kita sering kali lebih bersifat simbolis dan dalam memaknainya pun terkadang hanya menyentuh sisi "permukaan" (superficial). Kerap kali yang muncul dalam perbincangan adalah keinginan untuk menghadirkan beragam kekhasan perayaan HUT RI di tanah air, dari mulai arak-arakan karnaval sampai beragam lomba yang tergolong unik, termasuk lomba panjat pinang.

"Namun demikian sewaktu menghadiri peringatan 70 tahun kemenangan Sekutu dalam Perang Pasifik, di 'monumen nasional peperangan' (National War Memorial) di pusat kota Ottawa, pada tanggal 15 Agustus 2015, pikiran saya pun diajak merenungi makna hakiki dari suatu kemerdekaan," ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Kanada Teuku Faizasyah dalam keterangan pers, Senin (17/8/2015).

Faizasyah menyebut saat acara tersebut ada pidato yang menyentuh hadirin yang datang dari veteran perang asal Kanada untuk mandala Pasifik bernama Robert H. Farquharson. Dia mengisahkan ketika Robert berpidato mengenai pengalaman pasukan Sekutu berperang melawan Jepang di Hong Kong dan Burma (Myanmar). Dari sekitar delapan ribu tentara Kanada yang bertempur di Burma (Burma campaign), lebih dari 500 orang gugur dan selebihnya menjadi tahanan perang (Prisoners of War–PoW) hingga berakhirnya Perang Dunia II.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu Faizasyah mengatakan Robert bercerita bahwa pengorbanan pasukan Kanada di mandala Pasifik semasa Perang Dunia II kurang mendapat apresiasi di dalam negeri. Hal ini jauh  berbeda dengan pertempuran pasukan mereka di mandala Atlantik. Kondisi ini diistilahkannya sebagai peperangan yang dilupakan atau terlupakan (forgotten war).

"Hal ini bisa dipahami karena secara kesejarahan dan nilai budaya, bangsa Kanada memiliki banyak kedekatan dengan negara-negara dan bangsa-bangsa di Eropa. Oleh karenanya peran prajurit Kanada sebagai bagian dari tentara Sekutu dalam membebaskan Eropa dari cengkraman 'Axis Power', utamanya Jerman dan Italia, tampak lebih menonjol dalam sejarah mereka," ujarnya.

Faizasyah mengatakan saat ini usia Farquharson sekitar 92 tahun. Dalam pidatonya, Farquharson menjelaskan bahwa pendudukan Asia Tenggara oleh Jepang pada waktu itu adalah untuk memperkuat mesin perang Jepang, karet dari Malaya, beras dari Burma dan minyak dari Dutch East Indies.

Farquharson juga mengatakan bahwa tentara Sekutu, sekalipun sudah memperkuat pertahanan mereka di Burma dan Malaya, tidaklah berhasil menghentikan ekspansi Jepang ke Asia Tenggara.

"Seusai rangkaian upacara peringatan 70 tahun kemenangan Sekutu dalam Perang Pasifik tersebut, saya beserta istri menemui Bapak Farquharson untuk menyampaikan terima kasih atas jasa dan sumbangsih tentara Kanada dalam melawan fasisme Jepang di Asia Tengara pada Perang Dunia II," kata Faizasyah.

Faizasyah mengaku menyampaikan nilai-nilai ideal tentang kemerdekaan dan kebebasan yang diperjuangkan tentara Kanada dalam peperangan di Asia Tengara pada waktu itu, juga dimiliki bangsa Indonesia. Dutch East Indies kini telah menjadi Republik Indonesia yang juga akan memperingati 70 tahun kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 2015. Satu fakta sejarah yang ternyata luput dari pengetahuan Bapak Farquharson.

"Saya juga sampaikan bahwa banyak bangsa Indonesia yang juga gugur di Burma saat menjadi romusha—pekerja paksa untuk membangun jaringan rel kereta api Burma-Thailand. Penderitaan para romusha dan PoW dalam membangun jaringan rel kereta api tersebut kemudian menjadi lebih dikenal sewaktu dikisahkan oleh Pierre Boulle dalam novel populernya berjudul The Bridge over the River Kwai," tutur Faizasyah.

Faizasyah juga mengatakan bahwa almarhum Ali Alatas—Menteri Luar Negeri RI dua periode di era Orde Baru dan di era Presiden BJ Habibie—sekali waktu pernah bercerita kepada dirinya bahwa saat memulai kariernya sebagai diplomat di Bangkok, salah satu tugas utamanya adalah memberikan perlindungan bagi mantan romusha asal Indonesia. Anak-anak bangsa yang bertahan hidup dalam kesengsaraan di sekitar Thailand dan Burma pada fase awal sejarah kemerdekaan Indonesia.

"Menutup pembicaraan, saya mengundang Bapak Farquharson untuk hadir di resepsi diplomatik dalam rangka HUT RI ke-70.  Setidaknya hal ini merupakan wujud apresiasi atas pengorbanannya beserta veteran perang asal Kanada lainnya dalam melawan fasisme di Asia Tenggara. Lebih jauh lagi, saya ingin mengenalkan Indonesia, negeri yang wilayahnya terlahir dari Dutch East Indies," ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Faizasyah mengatakan pengorbanan para pejuang bangsa dalam memerdekakan Indonesia, termasuk para romusha yang menjadi korban di Burma, semoga senantiasa menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda yang akan melanjutkan cita-cita kemerdekaan para pendiri bangsa.

"Oleh karenanya, pemaknaan atas HUT RI haruslah lebih dalam lagi, utamanya apa yang kita bisa wariskan untuk anak cucu kita di kemudian hari. Setiap permasalahan dan kealpaan yang berlaku dimasa kini—apakah itu tindak korupsi, pelanggaran hukum dan perusakan lingkungan—nantinya akan menjadi beban permasalahan yang ditanggung anak cucu kita. Tentunya kita tidak ingin mewariskan kondisi ini bagi mereka. Salam merdeka!" tutup Faizasyah. (dhn/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads