"Terima kasih juga sama Tuhan, terima kasih juga sama kakak pelatih, sekarang sudah lega, tugas utama sudah selesai, tinggal nanti support teman-teman yang bertugas sore," kata gadis yang akrab disapa Cia ini saat ditemui di Wisma Negara, Jakarta, Senin (17/8/2015).
Wajah Cia terus sumringah. Terlebih lagi dia berhasil menjalankan tugasnya dengan nyaris tanpa cela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agung Pambudhy |
Sama seperti rekan-rekannya yang lain, Cia sendiri sebelumnya tidak tahu bakal ditugaskan sebagai pembawa baki. Dia diberitahu pembina Paskibraka hanya beberapa jam sebelum dimulainya upacara.
Sebenarnya Cia dan beberapa rekannya yang lain memang sudah sering dilatih sebagai pembawa baki. Namun kepastian namanya terpilih justru baru diumumkan menjelang upacara.
Meski sudah sering dilatih, rasa khawatir dan takut salah tidak bisa dihindari. Apalagi saat jalan, naik tangga untuk mengambil bendera hingga turun dengan posisi membelakangi.
![]() |
"(Yang ditakuti) salah naik tangga, kan itu krusial, katakanlah tergelincir, apalagi pas turun. Terus waktu bawa bendera, kita kan nggak tahu jalan di depan kita ada sesuatu misalnya, jatuh atau apa, benderanya ada angin kenceng terus benderanya miss," papar Cia menjelaskan ketakutannya. Toh semua itu bisa dia lewati dengan sempurna.
Cia mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari Paskibraka, sebuah kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup. Melalui program Paskibraka, Cia kini sangat menghargai soal ketepatan waktu.
"Dulu mungkin masih bisa molor-molor 5 menit, tapi di sini kegiatan full. Molor 5 menit itu impact ke kegiatan acara yang lain itu kita sendiri yang rasain nggak enaknya," tandas perempuan yang bercita-cita sebagai jurnalis ini. (mok/nrl)












































Agung Pambudhy