Berdasarkan surat edaran yang didapat dari pedagang, aksi seruan mogok sebenarnya dimulai sejak tanggal 16 Agustus hingga tanggal 18 Agustus 2015. Namun, saat detikcom mengunjungi Pasar Anyar Bogor, pedagang ayam potong masih aktif berjualan. Beberapa pedagang, bahkan masih tampak ramai dikunjungi pembeli.
"Surat edarannya ada, tapi kita semua mulai mogoknya besok (17/8/2015) sampai hari Rabu (19/8/2015)," kata Yanto, pedagang ayam potong yang ditemui di Jalan Nyi Raja Permas, Kota Bogor, Minggu (16/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain karena mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat, harga yang tinggi ini juga membuat rugi para pedagang. Beberapa pedagang bahkan mengaku, menjual ayam saat ini hanya sekedar mempertahankan pelanggan saja.
"Kalau kita nggak jualan, kita jadi nggak enak. Terpaksa kita jual dengan harga tinggi, tapi itu tidak jadi untung buat kita, yang ada malah rugi. Tenaga sama waktu nggak kebayar," kata Miarsih, pedagang lainnya.
Ayam potong yang hanya Rp 30-31 ribu pada hari raya Idul Fitri lalu. Namun kini meningkat menjadi Rp 40-42 ribu perkilogramnya.
"Kalau Lebaran kita masih bisa jual, nggak ada beban. Tapi kalau sekarang, kasihan juga pembelinya, kitanya juga enggak ada untungnya," katanya. "Daging ayam campur itu sekilo Rp 40 ribu, kalau dada saja sekilo Rp 42 ribu. Beda jauh sama pas lebaran, cuma Rp 30 ribu," kata Miarsih.
Aksi mogok jualan sebelumnya juga direncanakan dilakukan oleh pengusaha ayam potong yang ada di Bogor. Tingginya harga ayam, membuat biaya operasional semakin tinggi bahkan usahanya semakin merugi. "Kondisi ini sudah tidak memungkinkan bagi kami untuk berjualan. Harga jual jadi semakin tinggi, konsumen akan keberatan," kata Tri Kisuwo, salah satu pengusaha rumah pemotongan ayam.
"Tujuan kami (melakukan aksi mogok) agar harga ayam bisa kembali normal, sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat. Kalau sekarang, mana ada mereka mau beli," kata Ketua Paguyuban Pengusaha Ayam Potong, Sony Listen. (mad/mad)











































