"Tadi mereka itu juga kaget. Nanya, 'kok bisa ya, negara kalian begini besar kok sistemnya nggak federal. Bagaimana mengelola perbedaan yang luar biasa itu, kalau kami sistemnya federal, sehingga state itu independen kan'," kata Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai acara pertemuan di komplek parlemen Senayan, Jakarta, Minggu (16/8/2015).
Menanggapi pertanyaan Anggota Kongres AS itu, lanjut Fahri, dirinya pun menjelaskan bahwa Indonesia tidak menganut sistem federal, melainkan memakai sistem negara kesatuan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di mana, Presiden Jokowi kemarin kan katanya mau transfer sekitar RP 100 Triliun untuk dana desa. Jangan lupa. Ini kadang-kadang kita anggap ini bukan prestasi DPR. Padahal otonomi tingkat 3 ini adalah prestasi DPR. Tolong ini dicatat. Prestasi DPR ini dihubungkan dengan orang ngantuk di ruang sidang, orang nggak datang. Padahal ini prestasi. Terbentuknya otonomi tingkat 3, terbentuknya dana desa," sambung Fahri.
Fahri mengatakan Indonesia dan Amerika memiliki banyak kesamaan. kendati menganut sistem negara yang berbeda, namun kedua negara sama pada sistem perwakilan atau legislatif. Dengan jumlah penduduk yang hampir sama, jumlah Anggota DPR kedua negara juga hampir sama.
"Kita dua kamar (DPR dan DPD), memang kamar kita tidak sempurna. Kamar DPD belum kuat di kita ini. Kalau mereka kamar senatnya kuat sekali. Nah tetapi cara mengelola parlemennya kita bikin jadi mirip juga," ujar Fahri.
"Kita tahu parlemenย Amerika Serikat Kongresnya, senatnya itu kuat-kuat. Kenapa mereka kuat, karena sistem pendukungnya kuat. Mereka punya perpustakaan terbesar di dunia. Di sekitar kongresnya itu banyak museum. Orang bisa mengenal memori sejarahnya. Lalu kemudian mereka punya banyak staf," tandasnya.
(idh/van)











































