Luhut 'Singa Jinak' di Pelukan Jokowi

Luhut 'Singa Jinak' di Pelukan Jokowi

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Minggu, 16 Agu 2015 12:42 WIB
Luhut Singa Jinak di Pelukan Jokowi
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Jenderal (Purn) Luhut Pandjaitan semakin digdaya setelah ditunjuk jadi Menko Polhukam. Goyangan PDIP ke 'Trio Singa' tak membuat Luhut tersingkir dari Istana.

'Trio Singa' adalah julukan untuk tiga orang dekat Jokowi di Istana yakni Menteri BUMN Rini Soemarno, Luhut yang mengawali karier di istana sebagai Kepala Staf Kepresidenan, dan Seskab Andi Widjajanto yang baru saja tergusur dari kabinet.

Soal Luhut yang semakin powerful itu menarik dianalisis. Banyak pengamat menduga, menerka, sampai mereka menemukan benang merah yang membuat Luhut kini semakin powerful dan diberiย  tempat strategis di Istana.

"Luhut bisa dibilang merupakan satu-satunya sosok kuat yang tidak ditopang oleh parpol. Sudah menjadi rahasia umum, kalangan PDIP tidak menyukai sosok yang satu ini, terbukti dengan label satu dari 'trio macan' yang melekat padanya. Namun, bagi Presiden Jokowi, Luhut adalah orang kuat yang loyal," kata pakar hukum tata negara Refly Harun kepada detikcom, Minggu (16/8/2015).

Apalagi Jokowi sudah mengenal Luhut jauh hari karena menjadi mitra bisnisnya. Mungkin buat elite PDIP Luhut adalah singa yang ganas, namun tidak bagi Jokowi, Luhut seolah seperti singa yang jinak. Karena itu seolah Jokowi tak mau bernegosiasi soal posisi Luhut dengan orang lain, termasuk PDIP sebagai partai yang mengusungnya.

Meski tanpa persetujuan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jokowi menunjuk Luhut sebagai kepala staf kepresidenan dan sekarang Luhut diberi posisi strategis sebagai Menko Polhukam, apalagi sedang banyak persoalan di sektor hukum dan keamanan.

Namun demikian, menurut Refly, hal ini justru bakal menimbulkan persoalan baru. Karena posisi sebelumnya yakni kepala staf kepresidenan membuat Luhut lebih fleksibel bertindak sebagai orang dalam Istana. Posisi itu dinilai lebih strategis dari posisi menteri apa pun.

"Bila kewenangan menteri relatif terdefinisikan sehingga tidak mudah lari ke sana kemari, tidak demikian halnya dengan Kepala Staf Kepresidenan. Luhut bisa mengerjakan apa saja yang dipandang strategis, bahkan ikut pula 'cawe-cawe' mendamaikan Partai Golkar yang terbelah," kata Refly.

Namun demikian setelah mengangkat Luhut jadi Menko Polhukam, nyatanya Jokowi belum punya pengganti Luhut sebagai kepala staf kepresidenan. Bahkan ada isu muncul Jokowi akan menghapus posisi itu. Lalu apakah Jokowi akhirnya akan menempatkan 'singa jinak' lainnya di posisi itu ataukah akan menghapus posisi kepala staf kepresidenan semakin membuka fakta bahwa kursi itu disiapkan khusus hanya untuk Luhut?

(van/nrl)


Berita Terkait