Bush-Putin Sepakat Soal Nuklir, Tapi Tidak Soal Demokrasi
Jumat, 25 Feb 2005 03:43 WIB
Jakarta - Presiden AS George W Bush dan Presiden Rusian Vladimir Putin sepakat melakukan upaya baru untuk menjaga senjata nuklir dari pihak berbahaya seperti Korea Utara dan Iran. Namun soal cita rasa demokrasi, tidak ada kata sepakat.Demikian yang mengemuka dari hasil pertemuan Bush dengan Putin di ibukota Slowakia, Bratislava pada 24 Februari 2005 waktu setempat seperti dilaporkan AP, Jumat (25/2/2005).Pertemuan itu merupakan yang pertama sejak pertemuan mereka di Santiago, Cile pada pertemuan APEC 20 November 2004. Sejak itu hubungan AS-Rusia menjadi renggang. Rusia menilai AS campur tangan di negara-negara tetangga Rusia. AS, termasuk Bush, mengkritik Rusia yang dinilai mulai berpaling dari demokrasi."Negeri saya melindungi hak asasi manusia dan martabat manusia. Kami menyelesaikan perselisihan dengan cara damai. Yang bisa saya katakan, ya berarti ya, ketika kita bicara tentang nilai demokrasi," kata Bush.Sedangkan Putin membalas, Rusia sudah membuat pilihan mengenai cita rasa demokrasi. "Ini sudah pilihan final dan kami tidak bisa menoleh ke belakang. Tidak bisa lagi kembali seperti ke masa lalu. Kami tidak akan berubah untuk menciptakan semacam demokrasi khusus Rusia," tukasnya.Meski berbeda soal cita rasa demokrasi, tapi kedua presiden yang saling memanggil nama depan itu sepakat mengenai pentingnya menghentikan program senjata nuklir yang disangka dilakukan Korea Utara dan Iran."Kami sepakat Iran seharusnya tidak memiliki senjata nuklir. Saya menghargai Vladimir bisa memahami hal itu. Kami juga setuju Korea Utara seharusnya tidak memiliki senjata nuklir," kata Bush.Hal senada disampaikan Putin. "Kami memiliki opini sama dan mengambil langkah sama. Kami harus mengakhiri pengembangbiakan misil dan teknologi misil. Pengembangbiakan senjata semacam itu bukan kepentingan negara-negara tertentu atau komunitas internasional pada umumnya," tukasnya.Bush dan Putin melakukan pertemuan sekitar tiga jam, termasuk selama satu jam hanya berdua dengan didampingi penerjemah. Pertemuan berlangsung di sebuah kastil abad pertengahan yang diselimuti salju. Menurut sumber, dialog keduanya tidak berlangsung panas.
(sss/)











































