Semangat Anak Puncak Papua Mengemban Pendidikan di Pedalaman

Semangat Anak Puncak Papua Mengemban Pendidikan di Pedalaman

Elza Astari Retaduari - detikNews
Minggu, 16 Agu 2015 00:31 WIB
Semangat Anak Puncak Papua Mengemban Pendidikan di Pedalaman
Foto: Elza Astari (Detikcom)
Papua - Jika dulu anak-anak di pedalaman Papua banyak yang tidak mengenyam pendidikan, kini keadannya jauh lebih baik. Seperti yang terjadi di Kabupaten Puncak, Papua, di mana sekolah sudah menjadi program prioritas pemerintah daerah setempat.

Kabupaten Puncak memang masih berusia muda. Namun dari pantauan detikcom di Ibukota kabupaten yakni di Ilaga, pembangunan sudah cukup berkembang. Itu termasuk dengan pembangunan sekolah-sekolah mulai dari TK hingga tingkat SMA/SMK.

Kini guru-guru juga tidak lagi terbatas, pasalnya di Kabupaten Puncak sudah memiliki program Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT). Program ini difasilitasi oleh UGM namun mengambil sumber daya guru dari berbagai lulusan perguruan tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada 60 guru GPDT yang ditempatkan di 8 distrik Kabupaten Puncak sejak Maret 2015 lalu. Delapan distrik terpisah berjauhan karena wilayahnya berbeda gunung dan transportasi hanya bisa menggunakan pesawat. Yakni distrik yang menjadi ibukota kabupaten yakni Ilaga, kemudian Gome, Sinak, Beoga, Pogoma, Wangbe, Douvo, dan distrik yang beberapa sempat dilanda bencana hujan es, Agandagume.

Tingginya minat belajar anak terbukti dalam perlombaan cerdas cermat yang digelar untuk pertama kalinya di kabupaten tertinggi di Indonesia tersebut. Cerdas cermat dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian penyambutan HUT RI ke-70 di Ilaga, Jumat (14/8).

Siswa-siswi dengan penuh semangat datang untuk menyemangati teman mereka yang maju lomba. Sayangnya hanya 4 distrik saja yang siap mengikuti lomba kali ini, yakni Ilaga, Gome, Sinak, dan Beoga.

Rentetan pertanyaan juri berebut dijawab oleh anak-anak baik sesi SD, SMP, dan SMA. Pertandingan paling menegangkan adalah saat pertanyaan rebutan di tingkat SMA untuk menentukan siapa yang jadi juara pertama. Jawaban cepat dan tepat soal matematika membawa SMA YPPGI Sinak keluar sebagai pemenangnya mengalahkan SMAN 1 Ilaga.

"Puji Tuhan. Tidak sia-sia 4 kali penerbangan batal karena cuaca. Tidak sia-sia datang ke sini. Terimakasih guru pendamping," ucap Ami Magi, salah seorang peserta regu dari SMA YPPGI Sinak usai lomba.

Ami yang kini merupakan siswa kelas 3 itu mengaku punya harapan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi. Ia ingin sekali bisa kuliah di UGM dan menginjak tanah Jawa.

"Saya mau kuliah di UGM, di Yogyakarta. Semoga bisa dapat beasiswa. Belum tahu ingin jurusan apa, yang penting IPS saja," kata Ami.

Sementara itu teman satu regu Ami, Wekiles Kulua, mengatakan timnya tidak melakukan persiapan khusus untuk lomba cerdas cermat. Mereka hanya belajar intensif selama 1 minggu didampingi oleh sang guru.

"Tak ada pelatihan khusus. Belajar semua selama 1 minggu. Senang sekali bisa menang. Hanya saja pertanyaan bahasa Inggris yang susah-susah," ujar Wekiles di kesempatan yang sama.

Masalah pendidikan menjadi perhatian khusus Bupati Kabupaten Puncak Willem Wandik. Ia pun menyediakan dana sebesar Rp 1 M khusus bagi sekolah-sekolah di wilayahnya yang berprestasi dan penuh semangat.

"Pendidikan penting karena menentukan masa depan Indonesia khususnya di Kab Puncak, Papua. Pendidikan yang paling hebat, tidak ada yang lain. Kita bisa lakukan beasiswa khusus nanti kita kirim ke Manokwari, UGM, UI, bahkan ke luar negeri," terang Willem.

"Harus gunakan program yang angkat semangat. Nanti kita siapkan dana yang sama seperti dana BOS, Rp 1 Miliar untuk SD, SMP, SMA. Kita akan serahkan ke sekolah-sekolah," sambungnya.

Willem pun meminta kepada dinas pendidikan Kab Puncak untuk mengontrol. Sekolah-sekolah yang memiliki prestasi dan semangat tinggi untuk semakin mengembangkan niat siswa bersekolah akan mendapat perhatian khusus.

"SMA dan SMP saya kasih semua. Tapi SD yang semangat yang mana. Kalau yang semangat saya kasih, yang tidak saya tidak kasih. Makanya harus kasih strategi untuk meningkatkan semangat. Gurunya, siswanya," tutur Willem.

Pada setiap kesempatan bertemu warga, Willem selalu menghampiri anak-anak dan menanyakan apakah mereka bersekolah atau tidak. Ia selalu mengingatkan anak-anak yang mengaku tidak sekolah.

"Siapa tidak sekolah? mana ayo? Besok sekolah ya, kalau tidak besok bapak ambil kamu masuk sekolah. Kamu sekolah? Bagus, saya suka," tukas Willem saat berinteraksi dengan anak-anak warga Ilaga, Sabtu (15/8).

(ear/jor)


Berita Terkait