"Memang benar ada dana tepatnya Rp 49 miliar itu di kompleks SMA Negeri 19. Di sana ada 3 SD, 1 SMP dan 1 SMA. Ini adalah perencanaan tahun yang lalu. Saya diberikan tugas untuk melakukan efisiensi," kata Arie usai menghadiri acara HUT ke-54 Pramuka dengan tema 'Pramuka Garda Terdepan Pelaku Perubahan dalam Pembentukan Karakter Kaum Muda' di Monas, Jakarta, Jumat (14/8/2015).
"Karena mempertimbangkan dan sampai saat ini belum bisa masuk ke pelelangan maka memang sebaiknya harus ditunda supaya betul selesai dan efisiensi penghitungan ulang yang lebih cermat dan efisien," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang volumenya besar di sana ada lima sekolah dan sekolah tersebut bangunan cagar budaya tentu diperlukan kehati-hatian untuk bisa mempertahankan beberapa bangunan yang ada. Mungkin pertimbangannya demikian kenapa kemudian seolah olah tinggi karena ini akumulasi dari lima sekolah," terang Arie.
Mantan Kadis Budaya dan Pariwisata DKI itu membenarkan pihaknya telah menunda rehabilitasi sekolah sampai dengan tahun depan. Sebab, untuk mengevaluasi harga satuan tidaklah sebentar.
"Saya kira memang sampai tahun depan karena memang tidak cukup waktu apabila dilaksanakan saat ini. Kita tentu harus coba lebih menghitung bagaimana efisiensi itu terjaga betul," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Ahok telah membatalkan sejumlah program rehabilitasi sekolah karena menemukan adanya penggelembungan dana. Menurut dia dana sebesar Rp 30-50 miliar terlalu mahal untuk perbaikan sekolah.
"Mau nggak mau tahun depan. Kamu rehab sekolah Rp 30 miliar? Kemahalan. Ngarang-ngarang itu konsultannya dari satuan harga," ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, hari ini.
"Makanya saya tanya Anda, rela nggak sekolah direhab Rp 30-50 miliar? Satu sekolah loh. Kamu kalau nggak mau setop, nanti yang menang rehab pesta pora mereka dan itu selalu nggak pernah ketemu," sambungnya.
(aws/dra)











































