Hal itu disampaikan Priyo saat ditemui di sela-sela acara Mabes Ormas MKGR di Hotel Savoy Homann Bandung, Jalan Asia Afrika, Kamis (13/8/2015). Priyo menyampaikan laporan pertanggungjawabannya sebagai Ketum MKGR periode 2010-2015 sekaligus akan mencalonkan diri dalam pemilihan ketum periode 2015-2020 bersaing dengan Roem Kono.
"MKGR mengapresiasi tinggi terhadap ikhtiar rekonsiliasi yang dilakukan oleh semua pihak, utamanya para senior. Baik Akbar Tandjung, Pak Habibie dan yang paling terakhir adalah Pak JK yang menginisiasi untuk melakukan islah terbatas menghadapi pilkada dari dua kepemimpnan Golkar," ujar Priyo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang sudah digagas Pak JK itu kita hormati, kita rawat dan dijadikan pintu masuk untuk menuju sifat yang tak terbatas alias islah permanen. Hanya dengan islah permanen kedua kubu Golkar ini bisa menyatu lagi. Kalau enggak, percaya saya Golkar akan jadi puing-puing dimana kita semua akan menangis dan meratapinya," katanya.
Bersatu dinyatakan Priyo sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Golkar. Yang sulit yaitu karena masing-masing pihak saat ini masih mempertahankan pandangannya.
"Saya juga jadi salah satu pihak karena wakil ketua umum di kepengurusan Ancol tapi semakin lama kita semua lelah kita konflik ini," tutur Priyo.
Ia pun mengisyaratkan akan adanya rekonsiliasi diantara dua kubu Golokar.
"Iya, sekarang sedang kearah sana (bersatu kembali)," katanya.
Kerugian Besar Golkar
Partai Golkar sebenarnya menyadari betapa mahalnya bayaran yang harus mereka bayar akibat konflik dualisme di tubuh partainya. Bagaimana tidak, menang di berbagai daerah namun justru tak bisa mengajukan calon di pilkada. Sakit rasanya.
"Anda tahu berapa mahal harga politik yang harus kita bayar karena kami bersengketa? Golkar di banyak lini tidak bisa mengusung calon-calon di Pilkada padahal kita memenangkan pemilu di daerah itu. Nangis ga tuh," ujar Priyo.
Tak ingin mengalami nasib serupa di Pilkada serentak gelombang kedua juga di Pileg atau Pilpres, konflik Golkar sepertinya mulai melunak.
"Jangan sampai di pileg dan pilpres mengalami yang sama. Atau di gelombang kedua pilkada serentak nanti kami mengalami yang sama. Ini yang harus disadari supaya dipercepat yang namanya rekonsiliasi. Ga ada pilihan lain," katanya.
Jika kedua kubu masih saja terus memilih berlawanan, maka Priyo menyatakan nasib Golkar sudah diambang kehancuran.
"Kalau masing-masing masih bersitegang dan bersikukuh ya terima nasib kita untuk hancur dan kami ga mau itu. Sangat terlihat di pilkada, ini menyakitkan," tuturnya. (van/nrl)










































