Saksi mata yang juga tetangga korban, Joko mengatakan, sekitar pukul 20.10 Wib dia melihat Bawono (47) yang tak lain putra semata wayang Tuminah sedang memindahkan bensin dari jerigen ke dalam botol untuk dijual eceran. Lantaran sedang ada pemadaman listrik oleh PLN, maka Bawono menyalakan lilin sebagai penerangan yang dia letakkan di dekatnya memindahkan bensin.
Nahas, tanpa sengaja lilin tersebut tersenggol Bawono hingga tumpah dan menyambar bensin. Sontak kobaran api menyambar sejumlah botol bensin lainnya serta sebuah jerigen yang masih sarat dengan bensin. Ledakan sempat terjadi sebelum akhirnya api menjalar ke seluruh bagian rumah Tuminah.
"Kondisi listrik padam sehingga Bawono menggunakan lilin sebagai penerangan. Tapi lilinnya jatuh dan langsung membakar bensin dan rumahnya," kata Joko kepada wartawan di lokasi kejadian.
Ledakan dari bensin tersebut, lanjut Joko, menimbulkan nyala api yang cukup besar. Bangunan rumah Nenek tuminah yang didominasi bahan kayu dan triplek membuat api dalam hitungan menit menjalar ke seluruh bagian rumah. Dengan peralatan seadanya, warga berusaha membantu memadamkan api.
"Saat api menyambar bensin, Bawono langsung menyelematkan diri bersama ibunya yang sudah tua sambil teriak meminta bantuan para tetangga," imbuh Joko.
Sekitar 30 menit kemudian, sebanyak 5 unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi untuk memadamkan api. Beberapa jam lamanya petugas berjibaku dengan api sebab khawatir merembet ke rumah warga lainnya yang saling berdekatan dengan rumah korban.
Sejumlah petugas kepolisian dari Polsek Prajurit Kulon memasang garis polisi setelah api benar-benar padam. Bangunan rumah dan harta benda Tuminah hangus menjadi arang. Meski tak banyak harta yang bisa diselamatkan dari rumah korban, beruntung Tuminah dan putranya selamat. (rvk/rvk)











































