Polri Harus Tindak Tegas Spekulan Berbagai Komoditas Termasuk Daging Sapi

Polri Harus Tindak Tegas Spekulan Berbagai Komoditas Termasuk Daging Sapi

Nur Khafifah - detikNews
Rabu, 12 Agu 2015 22:53 WIB
Polri Harus Tindak Tegas Spekulan Berbagai Komoditas Termasuk Daging Sapi
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mensinyalir banyak komoditas termasuk daging sapi sengaja dipermainkan agar harganya di pasar melonjak tajam. Akibatnya banyak konsumen yang dirugikan.

Terkait dengan itu jika telah memiliki datanya secara detil terutama para spekulan yang selama ini suka mempermainkan berbagai harga komoditas termasuk daging sapi, Polri jangan ragu untuk menindak tegas. Bila perlu lakukan terapi kejut (shock therapy) agar pedagang lainnya tidak memanfaat berbagai situasi yang melemahkan perekonomian secara nasional.

"Selama ini yang banyak terjadi pemerintah hanya melakukan ancaman saja terhadap para spekulan berbagai jenis komoditas termasuk daging sapi. Belum ada tindakan konkrit hingga memidanakan mereka. Padahal ada sebagian tindakan mereka yang telah mengancam perekonomian nasional," ungkap pengamat kepolisian, Aqua Dwipayana saat diminta tanggapannya mengenai ini pada Rabu (12/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aqua mengingatkan agar Polri jangan ragu untuk bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang telah merugikan masyarakat banyak. Salah satunya adalah pada penjualan daging sapi yang mengakibatkan harganya melonjak tajam.

Menurut mantan wartawan harian Jawa Pos dan Bisnis Indonesia ini yang perlu ditindak tegas tidak hanya para spekulannya. Jika ditemukan bukti kuat keterlibatan aparat pemerintah untuk mendukung kegiatan ilegal tersebut, agar juga dikenaikan sanksi sesuai dengan kesalahannya.

Seperti diberitakan harga daging sapi di wilayah Jabodetabek berkisar Rp 130.000/kg. Kondisi ini membuat para pedagang menggelar aksi mogok kerja karena dengan harga daging tinggi, penjualannya menurun.

Melihat kondisi ini, pihak kepolisian ikut turun tangan. Disinyalir ada upaya pihak tertentu yang mengkondisikan masyarakat selalu ketergantungan impor daging.

"Itu pasti kita lakukan penyelidikan. Memang ada usaha-usaha supaya kita ketergantungan pada impor, nah itu pengkondisian-pengkondisian semacam itu ada pelanggar-pelanggarnya," kata Kalpolri Jenderal Badrodin Haiti, ditemui di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jalan Tirtayasa, Jaksel, Selasa (11/8/2015).

Jenderal bintang empat ini lantas menjelaskan bagaimana modus yang dilakukan oknum importir dalam memainkan harga suatu produk di pasaran.

"Misalnya ada 1 produk, pada saat panen justru impornya masuk. Sehingga harga turun jatuh ke bawah, masyarakat tidak mau memproduksi itu," jelasnya.

"Nah setelah masyarakat tidak mau memproduksi itu, barulah dia ngatur. Harganya diatur, produksinya diatur, nah ini yang tidak boleh. Pasti ada permainan antara penentu kebijakan, masalah perizinannya, dan lain-lain. Di situ bisa terjadi di pelaku usaha. Oleh karena kita lakukan penelitian," jelasnya.

Badrodin mengungkap, banyak komoditas yang dipermainkan. Dia mencontohkan beras, kedelai, jagung, garam, dan daging. "Semua kita akan tangani. Kemarin kan ada penggeledahan di Kemenperindag," tandasnya.

Aqua menambahkan kenaikan berbagai harga komoditas baik yang sepenuhnya barang-barangnya tersedia di dalam negeri maupun ada sebagian yang diimpor untuk menutupi kekurangan kebutuhan di lokal, sudah sering terjadi.

Biasanya penyelesaiannya tidak tuntas hingga ke akar masalahnya. Akibatnya kejadian yang sama terulang kembali. Bahkan merembet ke komoditas yang lainnya.

"Untuk menghentikan semua spekulan komoditas tersebut pemerintah dibantu aparat keamanan harus bertindak tegas. Mereka yang kedapatan melakukan penimbunan barang-barang dengan tujuan agar harganya di pasar jadi naik harus diberi sanksi. Bila perlu masuk kan dalam daftar hitam importir berbagai komoditas. Sehingga mereka tidak mengulangi perbuatannya lagi," saran Aqua.

Akibat perbuatan negatif segelintir orang atau kelompok tersebut, lanjut anggota Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) ini masyarakat luas yang menjadi korbannya. Jika itu dibiarkan terus berlarut-larut dampaknya pada penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Contoh nyata yang sedang terjadi tambah anggota Tim Pakar Seleksi Menteri detikcom ini adalah terhadap lonjakan harga daging sapi. Biasanya per kg hanya Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu, melonjak tajam jadi Rp 130 ribu per kg.

Akibatnya para pedagang daging sapi memutuskan untuk mogok jualan. Mereka yang semula tidak ikutan berhenti berdagang daging sapi diminta teman-temannya untuk melakukan aksi yang sama.

"Efek yang ditimbulkan akibat pemogokan massal pedagang daging sapi tersebut luar biasa. Itu berimbas pada sektor perekonomian lainnya baik yang terkait langsung dengan komoditas tersebut maupun tidak. Kelangkaan daging sapi di pasar membuat beberapa produsen makanan yang selama ini mengandalkan daging sapi sebagai andalan produknya dengan terpaksa menghentikan bisnisnya," ujar kandidat doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini.

Jika kondisi tersebut dibiarkan terus berlarut-larut tanpa ada tindakan nyata dan konkrit untuk mengatasinya dan mengantisipasi agar tidak terulang kembali, menurut perkiraan Aqua akan terjadi lonjakan jumlah pengangguran di Indonesia. Hal tersebut sedikit banyak dirasakan langsung atau tidak akan menaikan tingkat kriminalitas di negara ini.

"Ujungnya adalah pekerjaan polisi memberantas kejahatan semakin bertambah. Padahal jika dari awal akar masalahnya ditemukan dan segera dilakukan penuntasan, kasus tersebut tidak akan terjadi. Biaya sosial yang bakal dikeluarkan akibat kejadian semua itu bakal bertambah tinggi dan mahal," pungkas Aqua yang sangat prihatin dengan tindakan para spekulan yang mempermainkan berbagai komoditas barang. (khf/rvk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads