Ketua Dekase, Mulyo Hadi Purnomo memang terang-terangan soal para seniman yang kesulitan biaya untuk menggelar Pazaarseniย sejak 8 Agusturs hingga 16 Agustus 2015 mendatang.
Dalam sambutannya, Mulyo mengaku ada sedikit "paksaan" kepada tiga bakal calon wali kota untuk menyumbangkan sejumlah dana seikhlasnya untuk membantu menutup kekurangan biaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagai sebuah tantangan, tiga bakal calon tersebut menyebutkan nominal rupiah yang cukup banyak. Dimulai dari Balon Wali Kota, Soemarmo, dia langsung menyebut angka Rp 25 juta. Disusul Sigit Ibnugroho yang dengan enteng menyebut jumlah dua kali lipat lebih banyak.
"Rp 25 juta, saya bantu Dekase," kata Marmo.
"Kalau saya pasti tidak sebanyak pak Hendy (Hendrar Prihadi) yang pernah jadi Wali Kota. Ya kalau Rp 50 juta saya ada," ujar Sigit.
Saat giliran Hendy, ternyata dia tidak langsung memperbanyak nominal dari dua lawannya. Terlebih dulu ia bertanya kepada Mulyo sebenarnya berapa kekurangan biayanya.
"Saya tanya dulu, siapa tahu cuma kurang Rp 10 juta kan ya cukup," kata Hendy.
Seseorang kemudian datang membawa amplop cokelat dan diserahkan ke Mulyo. Amplop tersebut berisi hitung-hitungan dana untuk penyelenggaraan acara Pazaarseni.
"Ini bukan rekayasa, iniย bisa dibuktikan, kekurangannya Rp 60.700.000," kata Mulyo sambil membaca secarik kertas yang dikeluarkan dari amplop cokelat.
"Ya wis segitu (Rp 60,7 juta)," kata Hendy.
Dengan lelang tersebut, maka lukisan misterius itu dimenangkan oleh Hendy. Kain penutup pun dibuka, ternyata isinya adalah lukisan karya Gubernur Jawa Tengah yang digoreskan saat acara pembukaan Pazaarseni tanggal 8 Agustus lalu yang kemudian disempurnakan oleh pelukis Michele dan Kokoh Nugroho. Lukisan tersebut berupa gambar abstrak dengan simbol hati dan goresan warna-warni menyerupai huruf H besar. Dengan demikian, lukisan pun berhak dibawa pulang oleh Hendy.
Meski demikian, tiba-tiba Soemarmo berkata kepada Mulyo kalau uang Rp 25 juta tadi tetap akan disumbangkan. Senada dengan Soemarmo, Sigit juga mengiyakan uang Rp 50 juta juga tetap disumbangkan meski keduanya tidak membawa pulang lukisan tersebut.
Lelang lukisan Ganjar itu menutup dialog kebudayaan antara tiga bakal calon tersebut. Sebelumnya mereka sempat saling sindir dalam dialog yang digelar mulai pukul 16.00 hingga menjelang adzan Maghrib itu. Para pendukung pun riuh melontarkan sindiran layaknya acara debat resmi. (alg/rvk)











































