Saling sindir awalnya hanya terjadi antara pendukung yaitu dengan kata-kata seperti "Hidup KPK" yang ditujukan untuk Soemarmo yang pernah dihukum karena kasus korupsi. Kemudian ada "wonge cilik tapi duite akeh" yang ditujukan untuk Sigit yang berpostur paling pendek diantara dua calon lainnya, sedangkan untuk Hendrar muncul kata-kata "Wis tau ngaraskke kabeh". Kalimat tersebut juga sekaligus menyindir Soemarmo.
Pada sesi berikutnya, Budayawan, Jawahir melontarkan pernyataan soal seni budaya di Semarang yang kini mati suri termasuk salah persepsi soal salah satu ikon kota Semarang yaitu hewan fantasi Warag Ngendhog yang diwujudkan berupa patung di Taman Pandanaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu tokoh seni sekaligus jurnalis Teguh Hadi menanyakan tentang rencana politik anggaran kebudayaan dari masing-masing bakal calon. Dua pernyataan dan pertanyaan itulah yang kemudian jawabannya disisipi sindiran.
Dimulai dari Soemarmo, ia tidak langsung menanggapi dua pertanyaan itu namun justru berbicara tentang kepala daerah yang tidak boleh menjabat dalam partai politik. Pendapat itu jelas menyindir Hendrar yang saat menjabat Wali Kota Semarang juga menjadi ketua DPC PDIP Kota Semarang.
"Kepala daerah setelah dilantik harus meninggalkan jabatan politik. Harus di tengah-tengah. Sehingga pembangunan tidak milik kelompok dan partai," kata Soemarmo.
Setelah Soemarmo selesai dengan pernyataan tentang kebudayaan yang disisipi "sindiran" itu. Hendrar yang akrab disapa Hendy langsung menanggapinya. Menurutnya tidak ada regulasi soal itu dan ia menganggap Soemarmo belum terlalu paham.
"Pemimpin daerah tidak boleh jadi pemimpin Partai Politik, tapi tidak ada regulasinya. Seperti pak Marmo pernah ditahan, tapi sudah menebusnya di penjara dan sekarang menyalonkan lagi (sebagai Wali Kota), tidak apa-apa. Jadi kita bicara budaya, tidak perlu sindir sana sindir sini," tandas Hendy.
Seolah tidak mau ketinggalan, ternyata Sigit juga ikut nimbrung menyindir. Awalnya Sigitย membahas soal perkembangan budaya di Semarang yang harus sejajar dengan Kota Lain, namun ketika membahas soal dukungan pemerintah terhadap seniman di Kota Semarang, sindirian muncul.
"Mas hendi betul, tapi tidak kreatif. Kalau hanya mengandalkan APBD akan terbatas dengan aturan," ujar Sigit.
"lho iki mulai ndisik lho, ngomong nggak kreatif. Mulai, ya," timpal Hendy sembari langsung merebut mic setelah Sigit selesai bicara.
Aksi sindir menyindir itu berlangsung cukup seru padahal tujuan forum hanya untuk berdialog, bukan berdebat. Para pendukung pun bersautan melempar sindiran dan beberapa kali diingatkan oleh moderator.
Diketahui pada Pilkada Kota Semarang periode 2010-2015, Soemarmo dan Hendrar terpilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang. Namun Soemarmo digantikan Hendy karena ia harus melepas jabatannya karena tersandung kasus suap. Sementara itu Sigit mengakui dirinya adalah orang baru yang belum terkenal seperti dua Balon Wali Kota lainnya.
"Ya, iya, saya yang paling tidak terkenal. Belum pernah menjabat Wali Kota sendiri," ujar Sigit kepada detikcom.
(alg/rvk)











































