Petir dengan kilatannya ini cukup menakutkan warga. Tak hanya suara petir yang menggema, tiupan angin kencang juga menyebabkan sejumlah pohon besar tumbang dan aliran listrik terputus.
Meski hujan hanya berlangsung beberapa menit saja, hujan ini mampu mengurangi polusi kabut asap yang menyelimuti udara dalam beberapa pekan setelah dilanda kekeringan akibat dampak El Nino. Hujan ringan hingga sedang sudah mulai terjadi sejak semalam, terutama di wilayah Kabupaten Sanggau, Bengkayang, Landak, dan Pontianak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi TMC ini didukung satu unit pesawat Casa 212-200 milik TNI AU dapat dikatakan berhasil memicu terjadinya hujan. Pesawat itu setiap hari melakukan penaburan garam sebanyak 800 kilogram - 1,6 ton di udara di beberapa titik yang berpotensi adanya kumpulan awan cumulonimbus.
"Cara ini telah dirasakan, hujan sudah mulai turun," ujarnya.
Heru mengatakan sejak pagi kabut asap tebal yang biasa menyelimuti udara Pontianak dan begitu mengganggu jarak pandang saat ini dirasakan sudah berangsur menghilang.
"Kabut asap tipis memang masih ada. Tetapi hujan yang terjadi telah memadamkan titik-titik api yang memicu kabut asap," tuturnya.
Dikatakannya, proses TMC ini hanya meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik ini dibawa pesawat dan disemai ke dalam awan hujan dengan tujuan mengefektifkan pengumpulan tetes air di dalam awan. (rul/try)











































