"(Reshuffle) Sesuai dengan gambaran keinginan masyarakat berdasarkan hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI)," kata pengamat politik Universitas Paramadina yang juga peneliti KedaiKOPI, Hendri Satrio, kepada wartawan, Rabu (12/8/2015).
Dari hasil reshuffle, Presiden dinilai mempertimbangkan masukan dari banyak pihak termasuk Wapres dan ketua parpol pengusung. "Terutama dengan masih bertahannya Sofyan Djalil dan masuknya nama Pramono Anung dan Luhut Pandjaitan. Sementara Thomas Lembong merupakan orang dekat Jokowi serta nama Rizal Ramli yang juga pernah menjadi menteri di era Magawati," imbuh Hendri.
Bidang perekonomian dirombak, menurut Hendri, karena memang harga-harga yang melambung tinggi. Sementara pembenahan di sektor maritim adalah janji kampanye Jokowi, sedangkan bidang Polhukam sempat terjadi kegaduhan dan perlu dilakukan pembenahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Contohnya dari hasil survei saat responden ditanya siapa yang paling bertanggung jawab pada penyerapan anggaran hasilnya menjawab Presiden (40,4%) baru setelah itu menteri-menteri terkait (31,6%). Atau saat ditanya siapa yang paling bertanggung jawab pada fluktuasi rupiah, hasilnya hampir sama, Presiden (36,4%) dan Gubernur BI (23,6%).
"Jawaban lainnya untuk kedua pertanyaan itu beragam, ada yang menjawab para Menko, Bappenas dan lainnya. Padahal bila kita cermati lagi penyerapan anggaran adalah tanggung jawab setiap kementerian sementara Bank Indonesia yang bertanggung jawab kepada fluktuasi rupiah.
Bila menyikapi hal di atas wajar bila Presiden ingin memiliki tim terbaik, karena ternyata apapun hasilnya semua beban ada di pundak Presiden," papar Hendri.
Nah pertanyaannya, apakah akan ada reshuffle jilid 2? "Mudah-mudahan tidak, semoga menteri yang selamat dari reshuffle bisa langsung gas pol meningkatkan kinerjanya terutama Menteri Pertanian, Menteri PAN, Menteri BUMN dan Menteri ESDM," harapnya.
(van/nrl)










































