Hardisk-gate di Gedung DPR
Petugas Pamdal Minim,CCTV Rusak
Kamis, 24 Feb 2005 17:16 WIB
Jakarta - Wajar saja bila pencurian hardisk di ruang kerja anggota DPR terjadi berulangkali. Ternyata, jumlah personel Pamdal yang berjaga di malam hari cuma dua orang. CCTV yang bisa merekam kegiatan, tidak berfungsi. Kisah ini diceritakan oleh salah seorang anggota Pamdal (pengamanan dalam) DPR yang keberatan ditulis namanya saat ditemui detikcom, Kamis (24/2/2005) di gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Menurut dia, Pamdal memang telah mendapat pengaduan tentang pencurian hardisk komputer anggota DPR. Namun, laporan tertulis yang diterima Pamdal hanya datang dari anggota F-PAN Alvin Lie. "Laporan tertulis hanya datang dari Pak Alvin, karena itulah kami tadi langsung koordinasi," ungkapnya. Memang, siang tadi, Kepala Pamdal Mardian Umar mengumpulkan para anak buahnya di gedung DPR. Mereka melakukan koordinasi tentang laporan adanya pencurian hardiks komputer tersebut. Tapi, menurut sang anggota Pamdal ini, tidak ada kesimpulan dari rapat tersebut yang luar biasa, kecuali hanya meningkatkan pengamanan. Menurut dia, proses pengamanan terhadap 550 anggota dewan saat ini mengalami kesulitan, termasuk ruang-ruang kerja mereka. Pasalnya, kata dia, sedikitnya ada empat orang yang memegang kunci ruangan seorang anggota DPR. "Ada empat pemegang kunci ruangan, yaitu anggota DPR sendiri, ajudan, sekretaris pribadi, dan petugas kunci. Bahkan, jumlah pemegang kunci itu bisa lebih, kalau anggota itu memiliki staf ahli. Ini tentu membuat kami kesulitan untuk memantau pengamanan," kata dia. Selama ini, kata dia, hanya ada dua personel Pamdal yang bertugas menjaga gedung Nusantara I yang memiliki 20 lantai lebih itu. "Tapi, kalau malam, semua pintu masuk ke gedung Nusantara I sudah dikunci. Dan dua personel Pamdal itu berjaga di basement," tutur dia. Tentang CCTV, kata dia, memang setiap lantai dipasang alat perekam itu. Namun, peralatan CCTV itu sudah lama rusak. "Sejak awal CCTV itu dipasang, hingga kini belum pernah ada pergantian alat. Jadi, perawatannya minim sekali. Jadi, wajar saja, kalau rusak," jelasnya. Seperti diketahui, 6 anggota DPR menjadi korban pencurian hardisk dan prosesor komputer mereka yang berada di ruang kerja mereka. Keenam anggota DPR ini, empat anggota Fraksi Partai Golkar dan dua dari anggota FPAN, berkantor di gedung Nusantara I tersebut.
(asy/)











































