Pengidap AIDS di Jateng Meningkat

Pengidap AIDS di Jateng Meningkat

- detikNews
Kamis, 24 Feb 2005 17:03 WIB
Solo - Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah mengakui bahwa terjadi peningkatan jumlah pengidap virus HIV/AIDS yang tersebar di 32 kabupaten/kota di daerahnya. Sedangkan untuk tahun ini, jumlah warganya yang meninggal karena terserang deman berdarah dengue dilaporkan sebanyak 11 orang.Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Krishnajaya saat mendampingi Gubernur Jawa Tengah pada penyerahan sertifikat akreditasi 16 standar pelayanan RSUD Dr Moewardi Solo, Kamis (24/2/2005).Dikatakannya bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi concentred epidemic level dan Jawa Tengah termasuk dalam sepuluh besar propinsi yang warganya terkena penyakit tersebut. Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Jawa Tengah sejak diketemukan tahun 1993 hingga saat ini telah mencapai 393 kasus."Pengidap HIV ada 358 kasus dan AIDS ada 35 kasus yang tersebar di 32 kabupaten/kota. 27 orang di antaranya meninggal dunia. Faktor risiko penularan terbesar adalah heteroseksual sebanyak 62,86 persen, penggunaan narkoba suntik sebanyak 26,71 persen, homoseksual sebanyak 8,57 persen dan penularan ibu ke anaknya sebanyak 2,86 persen," papar dia.Adapun para pengidapnya meliputi berbagai strata dan profesi dan tidak diderita oleh wanita penjaja seks. Di antara para pengidap yang disebutkan Krishna adalah wiraswasta, pengusaha, karyawan, PNS, TNI, mahasiswa, buruh dan bahkan ibu rumah tangga.Korban DBDSedangkan mengenai wabah DBD, Krishna mengatakan hingga saat ini di Jateng terdapat 337 kasus DBD dengan 11 kematian atau rata-rata 26 kasus/minggu. Menurutnya, dengan dasar laporan tersebut berarti terjadi penurunan kasus dibanding tahun 2004 yang mencapai 2401 kasus dengan 53 kematian atau rata-rata 400 kasus/minggu."Dibandingkan dengan propinsi lain di Pulau Jawa, kasus DBD di Jateng masih cukup rendah. Namun kami tetap waspada mengingat pada tahun ini curah hujan tidak menentu. Biasanya, pola kasus DBD di Jateng mulai meningkat pada bulan Oktober dengan puncak kasus pada bulan Maret," kata Krishnajaya.Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto mengingatkan tentang wabah DBD yang telah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB) di DKI Jakarta. Mengingat tingginya mobilitas arus manusia dari Jakarta ke Jateng tiap harinya maka temuan diagnosa penderita DBD di Puskesmas dan harus segeradiinformasikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads