Tidak banyak yang mengenal Supriyadi karena memang dia bukanย asli Wonowoso. Keluarganya pun tertutup dengan warga. Dari pantauan detikcom, Selasa (11/8/2015), rumah berdinding merah di RT 2 RW 2 itu dalam keadaan tertutup rapat.
"Memang tertutup. Di sana ada kerabat-kerabatnya. Saya sendiri tidak tahu anaknya (Supriyadi) yang seperti apa," kata Ny Nur, ibu RT setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya memang rumah milik mereka, sesekali didatangi soalnya ditinggal ke Sumatera. Tidak tahu datangnya kapan," ujarnya.
Terkait dugaan warga yang menyebutkan Supriyadi memiliki gangguan jiwa, Ny. Nur tidak bisa memastikan karena memang pihak keluarga yang tertutup. Hanya saja dari warga yang tinggal di dekat rumah Supriyadi, sesekali ibu Supriyadi keluar untuk belanja atau Supriyadi keluar untuk memberi makan anjingnya.
"Ya setelah belanja ibunya langsung masuk rumah. Anaknya setelah keluar sebentar langsung masuk," tandasnya.
Peristiwa berdarah itu terjadi hari Minggu (26/7) lalu ketika salah satu warga mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang hiburan Barongan. Saat itu tiga bocah bernama Safiq Nur Falah (9), Azka Yusuf Nurul Khabib (7), dan Ahmad Zaki (12) melihat Barongan di teras rumah Supriyadi.
Tidak disangka Supriyadi tiba-tiba keluar sambil membawa parang dan mengamuk. Azka langsung terkapar karena lehernya tersayat, Zaki mengalami luka parah di perut, sedangkan Safiq terluka di pipi kiri dan punggung kiri.
Perasaan trauma menyelimuti keluarga korban dan warga lainnya jika melintas di rumah Supriyadi. Terlebih lagi SD Wonowoso terletak tidak jauh dari lokasi kejadian.
"Ya saya khawatir, apalagi saya masih punya cucu. Trauma kalau lewat sana," tandas ibu Ahmad Zaki, Sumarti (42).
Sementara itu, kini pelaku masih dalam penanganan kepolisian. Supriyadi juga dibawa ke rumah sakit jiwa untuk dicek kondisi kejiwaannya. (alg/try)











































