"Terkait kerawanan banyak hal yang bisa kita sampaikan, saya sudah minta identifikasi apakah ada sejarah konflik sebelumnya, seperti Bima Dompu, Palopo, Tolikara, Nias, Poso, Maluku Papua, dan beberapa daerah lain yang konflik-konflik pada pilkada yang lalu," kata Kapolri Jenderal Badrodin Haiti di PTIK, Jalan Tirtayasa, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2015).
Badrodin mengatakan, kendati para Kepala Satuan Wilayah di seluruh Indonesia telah memiliki pengalaman dalam pengamanan pilkada, namun ajang pilkada yang dilakukan serentak tahun ini tentu mengindikasikan situasi yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, saat disinggung apakah akan menggunakan menggunakan senjata api untuk melumpuhkan bila ada perusuh dalam rangkaian atau proses pilkada, Badrodin menjelaska, penananganan kerusuhan memiliki level masing-masing yang berbeda cara penanganannya.
"Jadi begini, kerusuhan ini kan polisi ada gradasinya levelnya, level satu sampai 6, level satu kehadiran polisi, dua gunaan kata-kata, tiga tangan kosong, level enam itu baru gunakan senjata api. Jadi ada gradasinya," pungkasnya.
(idh/erd)











































