Sikap Anggota DPR Memalukan?
Kamis, 24 Feb 2005 15:38 WIB
Jakarta - Anggota DPR sering disebut dengan sebutan 'terhormat'. Tapi, terhormatkah mereka, saat tiba-tiba keluar dari ruang rapat dengar pendapat (RDP) tanpa alasan? Ini terjadi saat Komisi XI DPR menggelar RDP dengan para pimpinan perusahaan-perusahaan pupuk di Indonesia. Memalukan? RDP antara Komisi XI dengan para dirut PT Pusri, PT Pupuk Kaltim, PT Petro Kimia Gresik, PT Pupuk Iskandar Muda, dan PT Pupuk Kujang digelar di ruang Komisi XI, gedung Nusantara I, gedung DPR, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (24/2/2005). RDP dipimpin Wakil Ketua Komisi XI Max Moein. RDP digelar mulai pukul 09.00 WIB dan baru berakhir pukul 14.50 WIB. Awalnya, 49 anggota Komisi XI menghadiri RDP ini. Tapi, di akhir acara, hanya tersisa 19 orang. Ke mana 30 anggota komisi lainnya? Di jam-jam pertama, seperti biasa, RDP diawali dengan memberikan kesempatan kepada anggota Komisi XI untuk menyampaikan pertanyaan. Dan para anggota dewan terhormat itu, hebat sekali. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan kesempatan itu. Puluhan pertanyaan ditampung oleh pimpinan sidang. Tapi, apa yang terjadi selanjutnya? Di saat para dirut perusahaan pupuk ini kebagian jatah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, satu per satu anggota dewan itu malah kabur dari ruang rapat. Luar biasa! Sampai-sampai, jumlah anggota komisi XI yang masih bertahan di ruang rapat tinggal 19 orang. Nah, kaburnya 30 anggota Komisi XI ini juga membuat prihatin sejumlah anggota Komisi XI yang bertahan di ruang rapat itu. "Ini, anggota DPR yang bertanya tidak ada di tempat. Apakah pertanyaan ini perlu dijawab atau tidak," kata salah seorang anggota DPR saat melakukan interupsi. Pertanyaan sang anggota dewan ini terjadi saat dirut PT Pupuk Kaltim akan menjawab pertanyaan dari anggota DPR yang sudah kabur itu. "Ya sudah, karena sudah ditanyakan, dijawab saja," kata pimpinan rapat, Max Moein. Kaburnya pada anggota Komisi XI ini memang tidak membuat para dirut perusahaan pupuk itu malas untuk memberikan jawaban. Mereka tetap menjawab satu per satu sejumlah pertanyaan yang diajukan. Nah, di akhir rapat, saat pimpinan rapat membacakan kesimpulan poin kedua, salah seorang anggota DPR melakukan interupsi. "Interupsi pimpinan. Saya, karena banyak anggota dewan yang tidak datang, sebaiknya penyampaian kesimpulan ditunda saja," kata dia. Pimpinan rapat pun menyerahkan usulan itu kepada floor. "Setuju," jawab mereka. "Kesimpulan akan disusun dalam waktu dekat dan disampaikan di lain waktu," kata Max. Dia juga mengharapkan, saat pembacaan kesimpulan nanti, pihak perusahaan pupuk itu datang. Sebagai pimpinan rapat, Max Moein juga tampaknya tidak enak hati dengan banyaknya kursi anggota DPR yang lowong. "Kami minta maaf, mungkin kami melakukan tindakan untuk menegur para anggota DPR yang pergi meninggalkan sidang," kata Max. Palu pun diketuk, dan rapat pun usai.
(asy/)











































