"Kebakaran gambut yang memiliki kedalaman satu meter hingga dua meter di bawah permukaan tanah ini menyebabkan api menjalar begitu cepat, apalagi cuaca ekstrem yang terjadi menyebabkan tiupan angin kencang, dan bahan yang mudah terbakar akibat kekeringan," kata Komandan Operasi Manggala Agni wilayah Satu Pontianak, Kalimantan Barat, Taufiqurahman, kepada detikcom, di Bandara Internasional Supadio, Kubu raya, saat memantau dan melakukan patroli di sejumlah titik api di sekitar kawasan bandara.
Terus meluasnya dan sebaran titik api yang merata di sejumlah titik di lahan gambut, membuat petugas Manggala Agni mulai kewalahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taufiq menyebutkan saat ini dari 4 regu Manggala Agni, dimana setiap satu regu terdiri dari 60 personel.
"Dari luasan lahan gambut yang terbakar, baru 100 hektar lahan yang berhasil dipadamkan sampai saat ini. Kami bekerja siang dan malam, karena biasanya api muncul pada malam hari.Β Dan saat ini, sudah 24 kali melakukan pemadaman, tapi api masih membara," ujarnya.
Karena terus bekerja, sejumlah personel Manggala Agni mengalami kelelahan. Apalagi biaya operasional untuk pemadaman api di lahan gambut maupun hutan yang terbakar tidak sedikit.
"Sekali beroperasi untuk kebutuhan satu regu, bisa menghabiskan anggaran Rp 3 jutaan, itu belum termasuk biaya konsumsi, karena baru biaya untuk bahan bakar pompa air," terangnya.
Kesulitan yang lain yang dihadapi petugas adalah lokasi kebakaran yang sulit diakses kendaraan roda empat. Umumnya lokasi kebakaran di lahan gambut berada di tengah dan menyebar terus searah tiupan arah angin. Akibatnya, petugas terpaksa berjalan kaki atau menggunakan kendaraan roda dua untuk menjangkau lokasi kebakaran. (ega/ega)











































