Rahman Arge yang aktif dalam dunia teater sejak tahun 1955 ini meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelum meninggal, Arge pernah dirawat di Rumah Sakit Siloam pada bulan April hingga Mei 2015 lalu.
Almarhum diketahui pernah menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Sulsel empat periode sejak tahun 1970, aktif menulis di Majalah Tempo dan Harian Fajar, serta pernah menjadi anggota DPR RI dari Golkar pada tahun 1987-1992. Selain itu pria yang meninggalkan 1 istri, 5 anak dan 10 cucu ini juga pernah meraih Piala Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1978 dari film Jumpa di Persimpangan dan Piala Citra FFI tahun 1990 dari film 'Jangan Renggut Cintaku'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 1970 kami pernah pentas dua malam di gedung kesenian Makassar selama dua malam dan disaksikan sekitar 10 ribu penonton, beliau-lah pencetus seni teater modern di Makassar, beliau mengilhami lahirnya seniman-seniman penerusnya," tutur Aspar, aktor asal Sulsel peraih Piala Vidia tahun 1992 ini.
Sementara menurut Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, kepergian Arge meninggalkan banyak warisan budi pekerti yang mengharumkan nama Sulsel.
"Beliau sosok sempurna yang menyandang berbagai predikat, mulai dari seniman, wartawan dan politisi, lewat akting dan tulisan beliau meninggalkan legacy bagi Sulsel, mengangkat martabat Sulsel di luar. Paling saya kenang pesan beliau adalah jangan mati tidak terhormat atau Mate Ri Santangngi," pungkas Syahrul.
Selain Syahrul, sejumlah tokoh hadir melayat di rumah duka, seperti mantan Gubernur Sulsel yang juga besannya, Mayjen (purn) Zaenal Basri Palaguna, Wakil Walikota Makassar Syamsu Rizal, budayawan Sulsel Ishak Ngeljaratan dan Fahmi Miala. (mna/try)










































