Lumpuh Usai Dioperasi, Christ Siap Laporkan 2 Dokter ke Polda
Kamis, 24 Feb 2005 13:33 WIB
Jakarta -
Christ alias Tjia Tji Gie berniat melaporkan dua dokter yang telah mengoperasi tulang belakangnya hingga menyebabkan kelumpuhan ke Polda Metro Jaya. Kedua dokter tersebut adalah dokter Subroto Supardan dari RS Sumber Waras dan dokter Jimmy Sugiarto dari RS Mitra Kemayoran.Saat ini Christ sama sekali tidak bisa duduk dan berjalan, sehari-hari ia hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring di tempat tidur.Menurut kuasa hukum Christ dari LBH Kesehatan (LBHK) di Polda Metro Jaya, jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Kamis, (24/2/2005), dalam beberapa hari ini pihaknya akan melaporkan apa yang telah dilakukan dokter tersebut ke Polda.Leo yang juga Direktur SDM dan Litbang LBHK menyayangkan kedua dokter yang tidak transparan terhadap pasiennya menjelang operasi. Di mana kedua dokter tidak menyampaikan risiko-risiko yang mungkin ditanggungnya jika menjalani operasi."Tidak adanya transparansi. Dokter tidak pernah mengatakan risiko apapun yang akan ditempuh setelah operasi. Malah dikatakan kalau tidak dioperasi bakal lumpuh, tetapi setelah operasi justru dokter mengatakan akan lumpuh, sehinga seolah-olah pasien kita ditakuti oleh dokter akan lumpuh bila tidak melakukan operasi," papar Leo.Dari penjelasan yang disampaikan Leo, pada awal tahun 2001, Christ mengeluh pegal-pegal, badannya hangat dan jari-jari kaki kanannya kesemutan. Karena merasa tidak nyaman, Christ lalu berkonsultasi dengan dokter Subroto Sapardan di RS Sumber Waras. Saat itu, dokter Subroto mengatakan syarafnya terjepit dan menganjurkannya untuk memakai korset selama tiga bulan.Namun ternyata kondisinya semakin parah dan dokter Subroto menyarankan Christ melakukan MRI di RS Husada yang hasilnya ternyata ada tumor lipoma pada syaraf di L3-4-5, dan dokter tersebut lalu menyarankan operasi untuk pengangkatan tumor yang ada di tulang belakang serta untuk memperbaiki tulang dan pemasangan plat.Saat pengangkatan tumor yakni Juli 2001, istri Christ dipanggil oleh dokter Subroto untuk menyampaikan tim dokter tidak berani melakukan pengangkatan tumor karena akan menyebabkan kelumpuhan. Istri Christ mengaku bingung karena sebelumnya dokter tersebut mengatakan, jika tumor tersebut tidak diangkat juga akan mengakibatkan hal yang sama.Setelah operasi tersebut, kondisi Christ tidak lebih baik. Dia hanya bisa beraktifitas selama 1,5 jam dan istirahat 3-4 jam karena merasakan sakit dari pinggang sampai kaki.Lalu pada November 2001, kondisinya semakin buruk dan penyakitnya semakin parah. Christ komplain kepada dokter Subroto, namun dokter tersebut mengatakan Christ hanya stres dan menganjurkannya berenang untuk meregangkan otot syaraf. Namun Christ menganggap hal itu tidak mungkin karena dia hanya bisa bangun satu jam yang disertai rasa sakit yang sangat dalam.Dengan kondisi parah pada 19 Desember 2001, Christ mendatangani dokter Jimmy di RS Mitra Kemayoran, dan dokter tersebut menyarankan untuk dioperasi kembali. Namun setelah dioperasi kaki kiri Christ tidak dapat digerakkan dan sulit buang air kecil secara normal. Saat Christ komplain, Jimmy mengatakan bahwa hal itu akibat terjadi kelemahan pada syaraf buang air kecil yang disebabkan proses operasi. Lalu Jimmy merujuk dokter urolog di RS Pluit dan dokter tersebut mengatakan ada gangguan pada syaraf untuk buang air kecil. Untuk memperlancar buang air kecil dokter lalu memasang sistofik. Namun hingga kini dia tidak bisa buang air kecil lagi secara normal.Sewaktu kontrol usai operasi kedua ini, kondisi Christ semakin parah sehingga harus menggunakan ranjang dorong untuk berkonsulatsi. Kondisi tersebut, menurut dokter Jimmy adalah risiko operasi. Tetapi yang disayangkan hal itu tidak pernah dijelaskan dari awal oleh Jimmy.Karenanya, Christ sangat menyayangkan tindakan kedua dokter itu yang tidak pernah mengatakan risiko apa yang akan dideritanya setelah operasi sehinga kini dia tidak bisa duduk dan berjalan lagi serta harus memakai kateter untuk buang air kecil. Selain itu, dia juga mengalami rasa sakit yang amat sangat, tidak hanya saat bergerak saja tapi juga ketika diam di tempat tidur.
(umi/)










































